วันอังคารที่ 29 ธันวาคม พ.ศ. 2552

FORUM SEMINAR ILMIAH



FORUM SEMINAR ILMIAH PETIDAM

“ PERANAN MAHASISWA DALAM MASYARAKAT DI ERA GLOBALISASI
( ZAMAN KINI )”

NARA SUMBER :

· TUAN DANIA TUAN MAT LINGI
· ZAKARIA MUSA


HARI ISNEN / 4 JANUARI 2010

JAM : 8.30 – 13.00

SEGENAP PENSYARAH DAN MAHASISWA PETIDAM DI JEMPUT HADIR

วันอังคารที่ 8 ธันวาคม พ.ศ. 2552

Ujian Mid Semister / semister genap 2009

Ujian Mid Semister / Semister Genap Tahun Akademik 2009

PETIDAM

Ujian Mid Semister/ Semister Genap Tahun akademik 2009 akan di mulai pada :
Tanggal : 14 /12 / 2009 S/d 24 / 12/2009. Bagi mahasiswa yang belum lunas biaya SPP ( IUran ) di mohon segera melunasi dengan bagian Keuangan PETIDAM.

วันอังคารที่ 22 กันยายน พ.ศ. 2552

Hari Raya


Staf Pengurus Pengajian Tinggi Islam Darul Maarif ( PETIDAM ) Patani, Mengucapkan

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H.

Mohon Maaf Zahir dan Batin

วันจันทร์ที่ 7 กันยายน พ.ศ. 2552

Ujian Semister Ganjil


Ujian Semisteran 1430/2009

Maklumat, segenap masiswa PETIDAM, bahwa merujuk surat keputusan Ketua PETIDAM tentang penyelenggaraan Ujian Semisteran/Ganjil, tahun akademik 1430/2009, dengan ini ujian semister ganjil akan diselenggarakan mulai tgl. 30 - 09 - 2009 s/d 13 - 10 - 2009, sekian.

Kegiatan di Bulan Puasa 1430 H.


Majelis Buka Puasa Bersama

Pada tgl. 8/9/2009, PETIDAM dan SM-PETIDAM akan menyelenggarakan kegiatan/majelis berbuka Puasa bersama, bertempat di Bangunan baru, seluruh staf pimpinan, pensyarah dan mahasiswa di jemput hadir.

วันเสาร์ที่ 22 สิงหาคม พ.ศ. 2552

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1430 H
Segenap Pimpinan dan Karyawan PETIDAM mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1430 Hijriyah

วันอังคารที่ 4 สิงหาคม พ.ศ. 2552

Kegiatan Pengabdian Masyarakat


Senat mahasiswa petidam ( SM- PETIDAM ) akan mengadakan kegiatan pengabdian pada masyarakat ( khidmat masyarakat ) bertempat di Masjid ishlahuddin kampung Klaba dalam, M. Trokbon, A. Saiburi, Pattani pada tasnggal 12 - Ogos 2009. Kegiatan tersebut bertujuan mengeratkan hubungan Ukhuwah Islamiyah, tanam rasa tanggungjawab terhadap lingkungan, serta peka dalam membakti sosial.
Bentuk kegiatan : membersih kawasan masjid dan sekolah tadika, cap masjid, majelis temu ramah ahli kampung dan kanak-kanak.

Kegiatan Sukan Budaya




Tanggal 18 s/d 20 Ogos 2009 Darul Maarif Institute Patani akan mengadakan kegiatan SUKAN BUDAYA / BUDAYA GAMES, bertamakan " Kesatuan Tungjang Keutuhan "
tujuan ; melahirkan kesatuan sesama, mengiratkan ukhuwah islamiyah, kesehatan jasmani dan rohani, dll

วันเสาร์ที่ 25 กรกฎาคม พ.ศ. 2552

Artikel Pilihan

Doktrin Aswaja di Bidang Sosial-Politik
15/06/2009

Berdirinya suatu negara merupakan suatu keharusan dalam suatu komunitas umat (Islam). Negara tersebut dimaksudkan untuk mengayomi kehidupan umat, melayani mereka serta menjaga kemaslahatan bersama (maslahah musytarakah). Keharusan ini bagi faham Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) hanyalah sebatas kewajiban fakultatif (fardhu kifayah) saja, sehingga –sebagaimana mengurus jenazah– jika sebagian orang sudah mengurus berdirinya negara, maka gugurlah kewajiban lainnya.Oleh karena itu, konsep berdirinya negara (imamah) dalam Aswaja tidaklah termasuk salah satu pilar (rukun) keimanan sebagaiman yang diyakini oleh Syi'ah. Namun, Aswaja juga tidak membiarkan yang diakui oleh umat (rakyat). Hal ini berbeda dengan Khawarij yang membolehkan komunitas umat Islam tanpa adanya seorang Imam apabila umat itu sudah bisa mengatur dirinya sendiri.
Aswaja tidak memiliki patokan yang baku tentang negara. Suatu negara diberi kebebasan menentukan bentuk pemerintahannya, bisa demokrasi, kerajaan, teokrasi ataupun bentuk yang lainnya. Aswaja hanya memberikan kriteria (syarat-syarat) yang harus dipenuhi oleh suatu negara. Sepanjang persyaratan tegaknya negara tersebut terpenuhi, maka negara tersebut bisa diterima sebagai pemerintahan yang sah dengan tidak mempedulikan bentuk negara tersebut. Sebaliknya, meskipun suatu negara memakai bendera Islam, tetapi di dalamnya terjadi banyak penyimpangan dan penyelewengan serta menginjak-injak sistem pemerintahan yang berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, maka praktik semacam itu tidaklah dibenarkan dalam Aswaja.Persyaratan yang harus dipenuhi oleh suatu negara tersebut adalah:a. Prinsip Syura (Musyawarah)Prinsip ini didasarkan pada firman Allah QS asy-Syura 42: 36-39:
فَمَا أُوتِيتُم مِّن شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى لِلَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ. وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ. وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ. وَالَّذِينَ إِذَا أَصَابَهُمُ الْبَغْيُ هُمْ يَنتَصِرُونَ Maka sesuatu apapun yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia, dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal. Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah, mereka memberi maaf. Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang kami berikan kepada mereka. Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan lalim mereka membela diri.Menurut ayat di atas, syura merupakan ajaran yang setara dengan iman kepada Allah (iman billah), tawakal, menghindari dosa-dosa besar (ijtinabul kaba'ir), memberi ma'af setelah marah, memenuhi titah ilahi, mendirikan shalat, memberikan sedekah, dan lain sebagainya. Seakan­-akan musyawarah merupakan suatu bagian integral dan hakekat Iman dan Islam.b. Al-'Adl (Keadilan)Menegakkan keadilan merupakan suatu keharusan dalam Islam terutama bagi penguasa (wulat) dan para pemimpin pemerintahan (hukkam) terhadap rakyat dan umat yang dipimpin. Hal ini didasarkan kepada QS An-Nisa' 4:58
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَاراً كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُوداً غَيْرَهَا لِيَذُوقُواْ الْعَذَابَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَزِيزاً حَكِيماً Sesungguhnya Allah meyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanyaa dan menyuruh kamu apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha melihat.c. Al-Hurriyyah (Kebebasan)Kebebasan dimaksudkan sebagai suatu jaminan bagi rakyat (umat) agar dapat melakukan hak-hak mereka. Hak­hak tersebut dalam syari'at dikemas dalam al-Ushul al­Khams (lima prinsip pokok) yang menjadi kebutuhan primer (dharuri) bagi setiap insan. Kelima prinsip tersebut adalah:a) Hifzhun Nafs, yaitu jaminan atas jiwa (kehidupan) yang dirniliki warga negara (rakyat).b) Hifzhud Din, yaitu jaminan kepada warga negara untuk memeluk agama sesuai dengan keyakinannya.c) Hifzhul Mal, yaitu jaminan terhadap keselamatan harta benda yang dirniliki oleh warga negara.d) Hifzhun Nasl, yaitu jaminan terhadap asal-usul, identitas, garis keturunan setiap warga negara.e) Hifzhul 'lrdh, yaitu jaminan terhadap harga diri, kehormatan, profesi, pekerjaan ataupun kedudukan setiap warga negara.Kelima prinsip di atas beserta uraian derivatifnya dalam era sekarang ini lebih menyerupai Hak Asasi Manusia (HAM).d. Al-Musawah (Kesetaraan Derajat)Semua warga negara haruslah mendapat perlakuan yang sama. Semua warga negara memiliki kewajiban dan hak yang sama pula. Sistem kasta atau pemihakan terhadap golongan, ras, jenis kelamin atau pemeluk agama tetlentu tidaklah dibenarkan.Dari beberapa syarat tersebut tidaklah terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa sebenarnya sistem pemerintahan yang mendekati kriteria di atas adalah sistem demokrasi. Demokrasi yang dimaksud adalah sistem pemerintahan yang bertumpu kepada kedaulatan rakyat. Jadi kekuasaan negara sepenuhnya berada di tangan rakyat (civil sociery) sebagai amanat dari Allah.Harus kita akui, bahwa istilah "demokrasi" tidak pemah dijumpai dalam bahasa Al-Qur’an maupun wacana hukum Islam klasik. Istilah tersebut diadopsi dari para negarawan di Eropa. Namun, harus diakui bahwa nilai­nilai yang terkandung di dalamnya banyak menyerupai prinsip-prinsip yang harus ditegakkan dalam berbangsa dan bernegara menurut Aswaja.Dalam era globalisasi di mana kondisi percaturan politik dan kehidupan umat manusia banyak mengalami perubahan yang mendasar, misalnya kalau dulu dikenal komunitas kabilah, saat ini sudah tidak dikenallagi bahkan kondisi umat manusia sudah menjadi "perkampungan dunia", maka demokrasi harus dapat ditegakkan.Pada masa lalu banyak banyak ditemui ghanimah (harta rampasan perang) sebagai suatu perekonomian negara. Sedangkan pada saat ini sistem perekonomian tersebut sudah tidak dikenal lagi. Perekonomian negara banyak diambil dari pajak dan pungutan lainnya. Begitu pula jika pada tempo dulu aqidah merupakan sentral kekuatan pemikiran, maka saat ini aqidah bukanlah merupakan satu­satunya sumber pijakan. Umat sudah banyak berubah kepada pemahaman aqidah yang bersifat plural.Dengan demikian, pemekaran pemikiran umat Islam haruslah tidak dianggap sebagai sesuatu hal yang remeh dan enteng, jika umat Islam tidak ingin tertinggal oleh bangsa-bangsa di muka bumi ini. Tentu hal ini mengundang konsekuensi yang mendasar bagi umat Islam sebab pemekaran terse but pasti banyak mengubah wacana pemikiran yang sudah ada (salaf/klasik) dan umat Islam harus secara dewasa menerima transformasi tersebut sepanjang tidak bertabrakan dengan hal-hal yang sudah paten (qath'iy). Sebagai contoh, dalam kehidupan bemegara (baca: demokrasi), umat Islam harus dapat menerima seorang pemimpin (presiden) dari kalangan non-muslim atau wanita.
KH Said Aqil SiradjKetua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU
sumber : http//www.nu.go.id

วันจันทร์ที่ 20 กรกฎาคม พ.ศ. 2552

Berita

Demonstrasi Mahasiswa UKM Dukung Muslim Thailand
Friday, 10 July 2009 18:05
Demonstran mendesak diwujudkan sebuah lembaga bantuan khusus untuk mengumpulkan dana bagi kaum Muslim di Pattani, Thailand Selatan

Hidayatullah.com--Sekitar seratus mahasiswa Islam Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) dan beberapa mahasiswa dari universitas di Malaysia, berdemonstrasi mendukung Muslim Thailand, selepas sholat Jum’at (10/7). Acara yang berlangsung di halaman Masjid Universiti UKM, Bangi, Malaysia ini selain menampilkan orasi-orasi mendukung perjuangan Muslim Thailand Selatan, juga memampang spanduk dan semacam potongan-potongan mayat yang dibungkus kain kafan.
Mohd Idris Mohd Yussoff, Presiden Ikatan Studi Islam UKM, menyatakan bahwa mahasiswa-mahasiswa Islam di UKM dan universitas lainnya haruslah memberikan dukungan kepada perjuangan Muslim Thailand. Selain itu, pemerintah Malaysia dan negara-negara tetangga tidak boleh berdiam dengan kondisi Muslim Thailand yang mengenaskan. “Lebih dari 3000 Muslim Thailand Selatan sejak tahun 2004 telah terbunuh.
Laporan-laporan di media massa hanya melaporkan sebagian korban kaum Muslimin di sana. Para imam dan jamaah masjid beberapa kali diculik dan tidak tahu hilang ke mana mereka,” tegas salah seorang demonstran dari Pattani. “Dulu tahun 1954 Haji Sulung dari Pattani telah meminta otonomi kepada kerajaan Inggris. Tapi tidak tahu nasibnya meninggal kemana, dibunuh oleh tentara kerajaan Thailand,” kata seorang demonstran. Mereka juga mendesak agar diwujudkan sebuah lembaga bantuan khusus untuk mengumpulkan dana bagi kaum Muslim di Pattani, Narathiwat, dan Thailand Selatan lainnya.
“Bila masalah Gaza Palestina menjadi perhatian seluruh dunia, maka seharusnya Thailand Selatan yang merupakan negara terdekat kita menjadi perhatian kita bersama. Mereka adalah seaqidah dengan kita,” teriak seorang demonstran yang lain. Selain itu para demonstran mendesak agar pemerintah Thailand menghentikan keganasan terhadap kaum Muslimin dan segera memberikan hak otonomi kepada Thailand Selatan.
Sumber: http//www.hidayatullah.com

Sejarah Pendidikan Islam di S.Thai

SEJARAH PENUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
PENDIDIKAN ISLAM DI SELATAN THAILAND
OLEH:
Dr. MUHAMATSAKREE MANYUNU
JABATAN DIPLOMA PENDIDIKAN
UNIVERSITI ISLAM YALA, THAILAND

Pendahuluan
Masyarakat Melayu di Selatan Thailand adalah sebahagian daripada rumpun bangsa Melayu yang turun temurun dan berabad-abad lamanya mereka menduduki bumi Selatan ini. Kedatangan Islam sedikit sebanyak telah mengubah dan mempengaruhi cara hidup mereka sejak beberapa abad yang lalu. Menurut sejarah bahawa Islam telah sampai ke bumi Pattani (Selatan Thailand) pada abad 16 M. pada tahun 1564. (Kujik dan rakan, 1998). Terdapat juga pendapat yang mengatakan bahawa Islam telah sampai ke Pattani sebelum abad ke 20 M. Manakala Maluleem (1995) mengatakan bahawa terdapat sumber sejarah menerangkan bahawa raja Pattani telah memeluk Islam lebih daripada 700 tahun.
Justeru itu, lahirlah institusi pendidikan Islam di Pattani (Selatan Thailand) melalui seorang pendakwah yang bernama Sheikh Safi al-Din, beliau telah dilantik oleh seorang raja untuk menangani pendidikan Islam di dalam istana raja. Bagaimanapun, ada pendapat berpendapat bahawa orang yang mula mengadakan pengajian Islam di rantau ini ialah Sheikh Said. Ia adalah pendakwah yang menyeru raja Pattani supaya memeluk agama Islam (Kujik dan rakan, 1998). Pada saat tersebut pendidikan Islam bergerak di tempat-tempat awam dalam bentuk halakah ilmiah seperti di surau, masjid dan rumah tuan guru. Setelah Islam bertapak di bumi Pattani, masyarakat mulai berhajat dan memerlu kepada ilmu-ilmu dan pendidikan agama yang dikenali dengan panggilan ‘pondok’. Sistem pengajian dan pendidikan dalam bentuk ini lahir pada tahun 1592. Sistem ini diasas oleh salah seorang ulama yang bernama Sheikh Fakih Wan Musa bin Khaidhir bin Ahmad al-Fatoni (Saad, 2001). Dari masa ke semasa bilangan pondok terus bertambah. Khususnya, apabila penuntut-penuntut yang menuntut ilmu pengetahuan di kota suci Mekah kembali ke tanah air. Adapun pusat pengajian yang dikenali dengan sekolah mulai lahir awal kali pada tahun 1929. Sekolah pertama yang diasaskan di Pattani ialah Madrasah Dar al-Ma‘arif al-Wataniah. Ia diasaskan oleh Hj. Sulung bin Hj. Ab.Kadir al-Fatoni setelah beliau balik dari tanah suci Mekah (Khun Thong Petr, 1968: 16; Sangkharat, 2001: 100).
Institusi pengajian Islam zaman peralihan
Setelah pengajian dan pendidikan Islam mulai bergerak di Selatan Thailand secara umumnya sistem pendidikan dalam bentuk pondok ini berkembang pesat pada tahun 1960. Terdapat sebanyak 50 buah pondok di dalam empat wilayah (Pattani, Yala, Narathiwat dan Satun) dibangunkan. Manakala pada tahun 1968, bilangan pondok telah meningkat ke angka 206 buah (Keawdeang, 1968). Pada tahun 1952, kerajaan Thai mulai mengadakan polisi baru bagi pendidikan negara serta diadakan kurikulum khas bagi empat Wilayah Selatan di bawah pimpinan menteri dalam negeri yang ketika itu disandang oleh P.Pibul Songkram. Akan tetapi kurikulum tersebut belum terlaksana, kerana berlakunya revolusi ketenteraan yang menyebabkan rancangan tersebut tergendala. Pada tahun 1958, sekali lagi kerajaan Thai mengadakan polisi pendidikan baru dengan membahagikan wilayah-wilayah Thai kepada 12 kawasan pendidikan. Manakala wilayah Pattani, Yala, Narathiwat dan Satun dicantumkan di dalam Kawasan Pendidikan II berdasarkan permasalahan yang hampir sama (Keawdeang, 1968).
Sehubungan dengan itu, pejabat pendidikan ditumbuhkan untuk menangani kepentingan tersebut. Ekoran dari penumbuhan Pejabat Pendidikan Kawasan II (Pusat Membina Kemajuan Daerah Pelajaran II-Yala) pada tahun 1958, pihak yang bertanggungjawab telah membentuk tiga jawatankuasa kecil untuk mengubah serta membangun sistem pendidikan di pusat-pusat pendidikan di Kawasan II ini. Jawatankuasa tersebut ialah jawatankuasa penasihat, jawatankuasa pembangunan kurikulum dan jawatankuasa pelaksanaan. Ketiga-tiga jawatankuasa tersebut, telah mengadakan mesyuarat pertamanya pada 11/9/1959 (Saad, 2001). Jawatankuasa ini juga telah membuat keputusan supaya diadakan perubahan bagi pusat-pusat pendidikan. Lantaran itu, jawatankuasa pelaksanaan telah mengeluarkan tiga resolusi penting. Didapati dua daripada tiga resolusi tersebut melibatkan secara langsung terhadap institusi pendidikan Islam yang dinamakan pondok pada ketika itu. Iaitu, pertama: mewajibkan pondok-pondok mendaftar secara rasmi dengan pihak kerajaan, kedua: memasukan pengajian bahasa Thai dan kemahiran hidup ke dalam kurikulum sekolah agama rakyat (Keawdeang, 1968). Hasil dari polisi tersebut, kerajaan telah berjaya mengadakan perubahan institusi pondok di kawasan ini sebanyak 140 buah. Proses perubahan ini mengguna masa 4 tahun, iaitu pada tahun 1965 sehingga tahun 1968.
Institusi pengajian Islam zaman sekarang
Proses pengajian dan pendidikan di kawasan Selatan Thailand sekarang terdapat dapat dibahagikan kepada pengajian formal dan tidak formal. Peluang pengajian terbuka kepada setiap lapisan masyarakat bermula dari kanak-kanak yang berumur tiga tahun seterusnya mereka yang telah dewasa dan orang tua. Seperti mana yang terdapat di kawasan Selatan taman asuhan kanak-kanak, sekolah agama rakyat di peringkat rendah (ibtida’i), menengah rendah (mutawassit), menengah tinggi (thanawi) dan di peringkat pengajian tinggi. Di samping itu, terdapat juga pengajian-pengajian mingguan yang diadakan di merata-rata tempat.
Walaupun berbagai bentuk dan peringkat pusat-pusat pendidikan Islam yang terdapat di kawasan Selatan Thailand sekarang. Akan tetapi pada kenyataannya yang memain peranan dalam mendidik dan membina generasi di samping mendapat perhatian dari setiap pihak ialah sekolah agama rakyat yang majoritinya adalah pondok-pondok yang telah diasaskan oleh alim ulama pada tahun 60-an dan 70-an (Sama-Ali, 2008). Bagaimanapun, pondok tersebut kebanyakannya telah berubah sistemnya kepada sistem persekolahan seperti mana telah diterangkan di atas. Sekolah-sekolah tersebut telah berdaftar secara rasmi dengan pihak kementerian pendidikan sebagai sekolah agama rakyat. Di samping itu, didapati juga sekolah-sekolah yang telah berdaftar tidak lagi berperanan yang sewajarnya dalam menjalankan tugas sebagai institusi pengajian. Mengikut statistik yang dikeluarkan oleh Pusat Membina Kemajuan Daerah Pelajaran II didapati bahawa lebih daripada 50 peratus sekolah-sekolah agama rakyat tersebut tidak lagi beroperasi (Sthiti Karnsuksa Rongrian Aekachon Sorn Sasana Islam Pi 2542, 1999: 8). Butiran lanjut adalah seperti berikut:
Jadual 1.1
Sekolah-sekolah di kawasan Selatan Thailand
Wilayah Berdaftar Masih berperanan Telah berhenti
Pattani 159 58 101
Yala 87 28 59
Narathiwat 64 56 8
Satun 18 12 4
Jumlah 326 154 (47.24%) 172 (52.76%)
Jadual di atas menunjukkan bahawa sekolah-sekolah agama rakyat di kawasan ini yang berdaftar dengan pihak kerajaan berjumlah 326 buah, tetapi yang benar-benar menjalankan urusan pembelajaran menurut sistem baru hanya 154 buah sekolah (47.24%) sahaja, yang baki 172 (52.76%) telah berhenti urusannya (Sthiti Karnsuksa Rongrian Eakachon Sorn Sasana Islam, 1999: 8). Ini, berlaku sebagai kesan dari penekanan masyarakat yang ingin melihat prestasi pembelajaran anak-anak mereka itu cemerlang, sama ada bagi aliran pengajian Islam ataupun aliran pengajian sains sosial. Kecemerlangan itu biasanya terdapat pada sekolah-sekolah yang besar atau yang sederhana sahaja. Ini kerana di sekolah-sekolah tersebut, pembelajarannya lebih sistematik dan guru-gurunya berwibawa dalam jurusannya serta kebanyakan mereka berkelulusan dari universiti, sama ada di dalam ataupun di luar negara.
Di sini, dapat difahami bahawa masyarakat setempat bukan sahaja berminat supaya anak-anak mereka dapat dididik dengan ilmu agama yang cemerlang, malah ikut cemerlang juga dalam ilmu akademik. Kebiasaannya, ilmu atau aliran pengajian sains sosial yang boleh memuaskan kehendak masyarakat terdapat pada sekolah-sekolah yang besar atau sederhana. Oleh sebab, di sini disediakan beberapa alat pembantu pengajian yang moden dan sistem pengajiannya bersistematik dan setaraf dengan sekolah-sekolah kerajaan. Melalui pengajian di sini pelajar-pelajar akan dapat bersaing dengan pelajar dari sekolah kerajaan. Ini membuktikan sistem pengajian di sekolah awam mempengaruhi pelaksanaan kurikulum pendidikan di sekolah agama rakyat.
Dari statistik yang telah dibentangkan di atas, didapati bahawa sekolah agama rakyat yang berdaftar rasmi dengan pihak kementerian pendidikan masih berperanan atau beroperasi hanya 154 buah sekolah atau 47.26 peratus di dalam empat wilayah. Sekolah tersebut boleh dikategorikan kepada dua bentuk sistem pengajian. Pertamanya, sekolah yang hanya menyediakan ilmu pengajian Islam. Keduanya, sekolah yang mengajar ilmu pengajian Islam dan ilmu pengajian sains sosial (Sthiti Karnsuksa Rongrian Aekachon Sorn Sasana Islam Pi 2542, 1999: 10).
Kesimpulannya, proses memperbaiki institusi pengajian Islam dari sistem pondok menjadi sistem sekolah yang dijalankan oleh pihak kerajaan Thai boleh dibahagikan kepada lima peringkat seperti berikut:
Peringkat I (1957-1960):
Pada peringkat ini kerajaan Thai berusaha memperbaiki institusi pondok yang sedia ada. Pada tahun 1957 pihak Kabinet Menteri meluluskan rancangan memperbaiki pendidikan seluruh negara dengan membahagikan daerah pengajian kepada 12. Daerah Pengajian II Yala (Samnakngan Suksathikarn Khet II) terdiri daripada empat wilayah Selatan: Pattani, Narathiwat, Yala dan Satun. Pada 1959 pihak pentadbiran Daerah Pengajian II dengan kerjasama dari pihak Kementerian Dalam Negeri menganjurkan satu seminar di Pusat Membina Kemajuan Daerah Pelajaran II Yala. Seminar tersebut disertai oleh pihak Kementerian Pendidikan, Kementerian Dalam Negeri, Majlis Sheikh Islam, Kadi-kadi, Majlis Agama Islam Wilayah dan tuan-tuan guru pondok. Seminar tersebut bertujuan seperti berikut (Phothipukkana dan rakan, 1990: 15):
Supaya setiap pondok bersetuju dengan pelan memperbaiki yang dicadangkan oleh Kerajaan.
Supaya memperbaiki binaan dan kawasan pondok-pondok serta membina jalan ke kawasannya dan juga mengadakan papan tanda namanya.
Memperbaiki mutu pengajaran dengan mengadakan kurikulum pengajian. Dengan ini pengajarannya berkelas-kelas serta dijadikan Bahasa Thai dan Kemahiran Hidup sebagai salah satu subjek pengajiannya.
Dituntut supaya menjalani penilaian pembelajaran di pondok, dan penilaian itu di bawah tanggungjawab Wilayah dan Daerah Pengajian.
Peringkat II (1961-1964):
Hasil perbincangan dalam seminar pada peringkat pertama tadi diserahkan kepada pihak Kementerian Pendidikan Thai. Tidak lama kemudian Kementerian Pendidikan mengeluarkan satu piagam memperbaiki institusi pondok. Butirannya adalah berikut (Khet Karnsuksa II, T.th: 5):
Mana-mana pondok yang berhasrat untuk memperbaiki urusannya diharap membuat permohonan supaya berdaftar dengan pihak kerajaan dengan suka rela.
Mana-mana pondok yang telah berdaftar dikehendaki menjalani pengajaran dan pembelajarannya mengikut kurikulum pendidikan Islam, Bahasa Thai dan Kemahiran hidup.
Mana-mana pondok yang menguruskan pengajaran dan pembelajarannya dengan baik akan dipilih untuk menerima Anugerah Diraja yang merupakan sumbangan wang.
Peringkat III (1965-1970):
Pada peringkat ini pihak kerajaan Thai menggalakkan pondok-pondok supaya berubah menjadi sekolah rakyat mengajar agama Islam menurut Perlembagaan Sekolah Rakyat 1954 (Khet Karnsuksa II, 1999: 1). Ia merupakan pondok di kawasan empat wilayah Selatan yang diperbaiki menjadi sekolah mengikut Projek Perbaikan Pondok Menjadi Sekolah Rakyat Mengajar Agama Islam Tahun 1965 sahaja (Keawdeang, 1968: 6). Justeru, Kerajaan merancang satu polisi untuk menggalak pihak pondok, dengan memberikan sumbangan wang sebanyak 100,000 Thai Baht bagi mana-mana pondok (yang telah berdaftar) yang mengubah statusnya menjadi sebuah Sekolah Rakyat Mengajar Agama Islam. Pada tanggal 14 Jun 1966 pihak Kabinet Menteri meluluskan satu resolusi yang bertujuan mengharamkan mana-mana individu mendirikan pondok baru. Sesiapa yang melanggar akan didenda (Karn Suksa Saphap Panha Tang Karn Suksa, 1984: 12). Di samping itu, pondok-pondok yang telah didirikan sebelum ini mesti berdaftar dengan pihak Kerajaan sebelum 31 Disember 1966 serta menukarkan statusnya menjadi Sekolah Rakyat Mengajar Agama Islam selewat-selewatnya 15 Jun 1971. Selepas tarikh ini mana-mana pondok yang belum menukar statusnya kepada Sekolah Rakyat Mengajar Agama Islam akan dibatalkan permit pengurusannya.
Peringkat IV (1971-1981):
Peringkat ini ialah peringkat yang kebanyakan pondok telah berubah menjadi Sekolah Rakyat Mengajar Agama Islam. Dengan ini Kerajaan telah meluluskan beberapa projek untuk memperbaiki Sekolah Rakyat Mengajar Agama Islam. Sebelum ini, pada September 1970 kerajaan telah mengisytiharkan Projek Penyumbangan Sekolah Rakyat Mengajar Agama Islam Tahun 1970 dengan tujuan untuk meningkatkan kualiti pengajian aliran pengajian Islam dan aliran pengajian sains sosial yang boleh menyelaraskan Pelan Pendidikan Negara dan Pelan Kemajuan Bahagian Selatan. Kesan projek ini juga dapat merapatkan fahaman antara rakyat dengan Kerajaan. Pada peringkat ini urusan memperbaiki Sekolah Rakyat Mengajar Agama Islam adalah di bawah tanggungjawab Pejabat Pengajian Swasta (Samnakngan Kanakamakarn Karn Suksa Aekachon). Pejabat ini bertanggungjawab dalam menguruskan projek sumbangan kepada sekolah-sekolah yang sedang diproses untuk menjadi Sekolah Rakyat Mengajar Agama Islam. Salah satu sumbangan yang dicadangkan oleh pihak Pejabat Pengajian Swasta tersebut ialah pembaharuan pengurusan pengajaran dalam sekolah rakyat mengajar agama Islam dengan membahagikan sekolah itu kepada dua aliran pengajian. Pertamanya aliran pengajian Islam: iaitu dengan menggabung bersama Pusat Pengajian Daerah Pelajaran II-Yala untuk membangunkan kurikulum aliran pengajian Islam. Ia seperti berikut: kurikulum peringkat ibtida’i, kurikulum peringkat mutawassit dan kurikulum peringkat thanawi. Keduanya aliran pengajian sains sosial: iaitu kurikulum-kurikulum yang dapat keizinan dari pihak Kementerian Pendidikan seperti berikut: kurikulum menengah rendah, kurikulum menengah tinggi dan kurikulum pengajian dewasa (Phothipukkana dan rakan, 1990: 18; Khet Karnsuksa II, T.th: 5).
Peringkat V (1982- ):
Pada tahun 1982 kerajaan Thai mengisytiharkan penggunaan Lembaga Sekolah Agama Rakyat Tahun 1982, dengan demikian Sekolah Rakyat Mengajar Agama Islam ditukarkan namanya menjadi Sekolah Agama Rakyat. Pembaikan Sekolah Agama Rakyat yang dijalankan oleh Kementerian Pendidikan ini selaras dengan Pelan Perkembangan Ekonomi dan Sosial Negara IV. Antara tahun 1982 hingga 1986 pihak Kementerian Pendidikan telah melaksanakan projek sumbangan kepada sekolah agama rakyat dan tujuannya adalah seperti berikut (Phothipukkana dan rakan, 1990: 20-22 ):
Supaya pengurusan perkembangan sekolah agama rakyat selaras dengan polisi Kerajaan.
Menggalakkan sekolah agama rakyat supaya dapat menguruskan pengajian aliran pengajian Islam, aliran pengajian sains sosial dan kemahiran hidup dengan baik dan selaras dengan tujuan Pelan Perkembangan Ekonomi dan Sosial Negara IV.
Meningkatkan kualiti pendidikan di sekolah agama rakyat.
Penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahawa pendidikan Islam dalam masyarakat Islam di Selatan Thailand sejak dari kedatangan Islam ke rantau ini hingga kini telah melalui beberapa proses perubahan dan peningkatan iaitu:
Pertama: kedudukannya dari sudut bilangan
Pada peringkat permulaan dalam tempoh masa yang tidak melebihi sepuluh tahun bilangan institusi pondok telah meningkat daripada angka puluhan kepada angka ratusan.
Meskipun pada peringkat permulaan bilangannya meningkat, tetapi dalam tempoh masa yang tidak beberapa dekat didapati sebahagian daripada institusi yang telah lahir itu terpaksa berhenti. Malah didapati lebih daripada lima puluh peratus dari jumlah semua yang telah ditumbuhkan telah berhenti.
Kedua: kedudukannya dari sudut sistem pembelajaran
Pada peringkat permulaan, sistem pembelajaran dalam institusi-institusi tersebut berbentuk halakah yang terkenal dengan pengajian pondok. Manakala pengajiannya pula hanya menjurus kepada ilmu-ilmu syariat sahaja.
Setelah itu, berlaku suatu perubahan ke arah yang lebih sistematik, iaitu lahir pengajian dalam bentuk persekolahan, tetapi pengajiannya masih terbatas kepada pengajian ilmu-ilmu syariat.
Setelah beberapa tahun kemudian, didapati sebahagian daripada institusi itu dimasukkan pengajian bahasa Thai dan kemahiran hidup yang akhirnya institusi-institusi itu diadakan pula pengajian semasa atau pengajian sains sosial (Saad, 2001).
Di sini, tidak boleh dinafikan bahawa sekolah agama rakyat di Selatan Thailand menjadi tempat tumpuan yang paling digemari ibu bapa untuk menghantar anak-anak mereka melanjut pelajaran. Oleh sebab itu, jumlah kanak-kanak yang menyambung pengajian mereka di sekolah agama rakyat lebih banyak daripada jumlah yang menyertai sekolah kebangsaan kerajaan. Di samping itu kebanyakan mereka mengutamakan sekolah agama rakyat yang menyediakan dua aliran daripada yang mengajar satu aliran sahaja, iaitu aliran pengajian Islam, kerana di sini mereka boleh mendalami ilmu agama dan juga ilmu moden yang membolehkan mereka melanjutkan pengajian sama ada di institusi pengajian Islam di Asia Barat di negara-negara Islam yang lain, atau di institusi pengajian tinggi setempat.

Rujukan:
Karn Suksa Saphap Panha Tang Karn Suksa lea Ittiphon thi Song Phon Kratop tor Karn dai Rian tor Chan Matayom Suksa Pi Thi I nai Rongrian Matayom Sai Saman lea Rongrian Aekachon Sorn Sasana Islam khong Nakrian Nabtue Sasana Islam nai Khet Karn Suksa II. (1984). Yala: Samnakngan Suksathikarn Khet II.
Keawdeang, Rung. (1968). Thasanakhati Tokkhru tor Karnpraprung Pornok Pen Rongrian Rard Sorn Sasana Islam. Tesis Ijazah Sarjana yang belum diterbitkarn, Bangkok: Staban Bandid Phattana Barihansard.
Khet Karnsuksa II. (T.th). Raingan Sarup Karnpattana Kunaphap Karnsuksa Rongrian Aekachon Sorn Sasana Islam Khet Karnsuksa II. Yala: Samnakngan Suksathikarn Khet
Khun Thong Petr, Chalermkiat. (1968). Karn Tortarn Nayobai Khong Rathabarn 4 Changwad Parktai. Tesis Ijazah Sarjana yang belum diterbitkan, Bangkok: Sillapakorn Universiti.
Kujik, Tengku Arifin dan Abdullah Laorman. (1998). Langka Suka Pattani Dar al-Salam. Yala: Pusat Kebudayaan Sempadan Selatan.
Maluleem, Imran. (1995). Wikrok Khuam Khatyeang Rawang Rattaban Thai kap Muslim nai Prated Thai. Bangkok: Islamic Academy.
Phothipukkana, Thida & Imchid Lerdpongsombad. (1990). Raingarn Karn Samruad: Saphap Hongsamud Roirian Aekachon Sorn Sasana Islam Changwad Chaideang Parktai. Bangkok: Samnakngarn Kana Kamakarn Karn Suksa Aekachon.
Saad, Ab.Kadir Ahmad. (2001). Dakwah Islamiah: Satu Kajian Terhadap Sejarah Perkembangan Pendidikan Islam Masyarakat Melayu Pattani. Journal Pengajian Islam, Yala: Kolej Islam Yala.
Sama-Ali, Abdulroma. (2008). Botbart Kru Sorn Sasana Rongrian Aekchon Sorn Sasana Islam Nai Karn Pattana Chumchon Changwad Chaidean Parktai Torn Lang. Tesis Sarjana Pendidikan Belum diterbitkan, Songkhla: Taksin University.
Sangkarat, Winich. (2001). Adeet Anakhut Lea Pachuban Rongrian Aekachon Sorn Sasana Islam (Pondok) Nai Changwad Chaideang Park Tai. Tesis Ijazah Sarjana yang belum diterbitkan, Chiangmai: Chiangmai University.
Sthiti Karn Suksa Rongrain Aekachon Son Sasana Islam Pi 2542. (1999).Yala: Klumnited Karnsuksa Aekachon-Khet Karnsuksa II.

Tip Hemat

Tip Hemat
Sampai Akhir Bulan
oleh: Taufiq
Saatnya Anda mengelola kondisi finansial dengan lebih cermat sehingga tidak perlu ada pikiran untuk mencari lebih secara HARAM.Ingatlah beberapa hal di bawah ini:
1. Perkirakan jumlah biaya Dalam sebulan.hitunglah berapa juta rupiah yang Anda perlukan untuk membiayai hidup Anda. Buat perkiraan itu tanpa menghiraukan apakah Anda sedang 'kaya' (bila ada tambahan penghasilan) atau 'miskin' (tanpa tambahan apa pun). Setelah itu, munculkan angkanya.
2. Buat anggaran dan catatanUntuk memperoleh anggaran, Anda harus menghimpun catatan pembelanjaan untuk sebulan atau 2 bulan. Ini akan memberi Anda petunjuk berapa banyak uang yang Anda perlukan setiap bulan. Banyak sistem yang mudah, tapi yang paling sukses adalah yang Anda lakukan dengan penuh kejujuran.
3. Jangan besar pasak daripada tiang Artinya, anggaran Anda tak boleh lebih besar ketimbang pendapatan. Sebuah anggaran adalah serangkaian pembelian yang terencana. Tentu saja, harus disesuaikan dengan besarnya penghasilan Anda.
4. Gunakan Celeng Salah satu kegunaan Celeng adalah untuk menyimpan uang Anda, supaya tidak selalu tersimpan di dompet dan menggoda untuk dihabiskan. Uang untuk keperluan berkala dan tahunan mestinya Anda tabung supaya Anda masih bisa memperoleh manfaat suatu saat kelak.
5. Tanggung jawab Resep apa pun dalam keuangan tak akan pernah berhasil bila Anda melalaikan tanggung jawab. Artinya, Anda harus ingat akan kewajiban mengelola uang ini dan berhati-hati membelanjakannya. Akhirnya, ini cuma TIPS, selanjutnya tergantung pada kita sendiri, bagaimana mengaplikasikan Tips diatas dalamkeseharian kita. Wallahu a'lam.
Sumber ; http//www.ar-raniry.com

Artikel

Berpakaian Sesuai Syariat Islam
Oleh : Drs. Subki Djuned
Salah satu perbedaan sistem Islam dengan sistem Kapitalis adalah bahwa sistem Kapitalis memandang persoalan sosial dan rumah tangga dianggap sebagai masalah ekonomi, sedangkan sistem Islam masalah-masalah di atas dibahas tersendiri dalam hukum-hukum seputar interaksi pria-wanita (nizhâm al-ijtima’iyyah).
Misalnya dalam sistem kapitalisme tidak ada istilah zina jika laki-laki dan perempuan melakukan hubungan suami isteri tanpa ikatan pernikahan asal dilakukan suka-sama suka atau saling menguntungkan sebaliknya disebut pelecehan seksual dan pelakunya dapat diajukan ke pengadilan jika seorang suami memaksa dilayani oleh seorang isteri sementara isterinya menolak.Karena itu dalam persoalan pakaian antara penganut sistem kapitalis dan sistem Islam jelas perbeda. Dalam sistem kapitalis pakaian dianggap sebagai salah satu ungkapan kepribadian, sebagai unsur penarik lawan jenis dan karena itu memiliki nilai ekonomis.
Bentuk tubuh seseorang –apalagi wanita– sangat berpengaruh terhadapmakna kebahagiaan dan masa depan.Adapun Islam menganggap bahwa pakaian digunakan memiliki karakteristik yang sangat jauh dari tujuan ekonomis apalagi yang mengarah pada pelecehan penciptaan makhluk Allah.
Karena itu di dalam Islam: 1. Pakaian dikenakan oleh seorang muslim maupun muslimah sebagai ungkapan ketaatan dan ketundukan kepada Allah, karena itu berpakaian bagi seorang muslim memiliki nilai ibadah. Karena itu dalam berpakaian iapun mengikuti aturan yang ditetapkan Allah. 2. Kepribadian seseorang ditentukan semata-mata oleh aqliyahnya (bagaimana dia menjadikan ide-ide tertentu untuk pandangan hidupnya) dan nafsiyahnya (dengan tolok ukur apa dan seberapa banyak dia berbuat dalam memenuhi kebutuhan hidup dan melampiaskan nalurinya). 3. Setiap manusia memiliki kedudukan yang sama, yang membedakan adalah takwanya.Melalui cara berpakaian yang Islami, sesungguhnya Allah juga berkehendak memuliakan manusiasebagai makhluk yang memang telah Allah ciptakan sebagai makhluk yang mulia.
Sebaliknya dengan tidak mengikuti cara berpakaian sesuai yang dikehendaki Allah, menyebabkan kedudukan manusia jatuh.Walhasil seorang muslim dan muslimah wajib mengetahui aturan berpakaian agar dalam berpakaian dan berpenampilan ia akan mendapatkan ridha Allah, bukan sebaliknya mendapatkan murka Allah.
Sekarang terpulang kepada Anda semua, jika Anda mengaku beriman dan ingin mengabdikan diri kepada sang Khaliq dengan sebaik-baiknya, sementara cara berpakaian Anda mencermainkan pola kapitalis, di mana dengan berpakaian itu menunjukkan ungkapan kepribadian, sebagai unsur penarik lawan jenis dan karena itu memiliki nilai ekonomis, maka Anda tidaklah termasuk hamba Allah, melainkan sudah diperbudak oleh hawa nafsu atau lebih tepat korban peradaban bahkan merupakan hamba syaithan; na'uzu billahi min zalik. Tentu saja bagi Anda seorang muslim-muslimah sejati tidak akan berpakaian yangmenampakkan bentuk/lekuk tubuh, yang pada akhirnya mengundang timbulnya nafsu syahwat dari lawan jenis.Wallahu a'lam !
Sumber : http//www.ar-raniry.com

Artikel

Etika Bisnis dalam Perpektif Islam
Oleh: DR. Achmad Kholiq

Wacana Etika dalam BisnisPerbincangan tentang "etika bisnis" di sebagian besar paradigma pemikiran pebisnis terasa kontradiksi interminis (bertentangan dalam dirinya sendiri) atau oxymoron ; mana mungkin ada bisnis yang bersih, bukankah setiap orang yang berani memasuki wilayah bisnis berarti ia harus berani (paling tidak) "bertangan kotor". Apalagi ada satu pandangan bahwa masalah etika bisnis seringkali muncul berkaitan dengan hidup matinya bisnis tertentu, yang apabila "beretika" maka bisnisnya terancam pailit.
Disebagian masyarakat yang nir normative dan hedonistik materialistk, pandangan ini tampkanya bukan merupakan rahasia lagi karena dalam banyak hal ada konotasi yang melekat bahwa dunia bisnis dengan berbagai lingkupnya dipenuhi dengan praktik-praktik yang tidak sejalan dengan etika itu sendiri.Begitu kuatnya oxymoron itu, muncul istilah businessethics atau ethics in business. Sekitar dasawarsa 1960-an, istilah itu di Amerika Serikat menjadi bahan controversial. Orang boleh saja berbeda pendapat mengenai kondisi moral lingkungan bisnis tertentu dari waktu ke waktu. Tetapi agaknya kontroversi ini bukanya berkembang ke arah yang produktif, tapi malah semakin menjurus ke suasana debat kusir.Wacana tentang nilai-nilai moral (keagamaan) tertentu ikut berperan dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat tertentu, telah banyak digulirkan dalam masyarakat ekonomi sejak memasauki abad modern, sebut saja Misalnya, Max weber dalam karyanya yang terkenal, The Religion Ethic and the Spirit Capitaism, meneliti tentang bagaimana nilai-nilai protestan telah menjadi kekuatan pendorong bagi tumbuhnya kapitalisme di dunia Eropa barat dan kemudian Amerika. Walaupun di kawasan Asia (terutama Cina) justru terjadi sebaliknya sebagaimana yang ditulis Weber.
Dalam karyanya The Religion Of China: Confucianism and Taoism, Webermengatakan bahwa etika konfusius adalah salah satu faktor yang menghambat tumbuhnya kapitalisme nasional yang tumbuh di China. Atau yang lebih menarik barangkali adalah Studi Wang Gung Wu, dalam bukunya China and The Chinese Overseas, yang merupakan revisi terbaik bagi tesisnya weber yang terakhir.Di sisi lain dalam tingkatan praktis tertentu, studi empiris tentang etika usaha (bisnis) itu akan banyak membawa manfaat: yang bisa dijadikan faktor pendorong bagi tumbuhnya ekonomi, taruhlah dalam hal ini di masyarakat Islam. Tetapi studi empiris ini bukannya sama sekali tak bermasalah, terkadang, karena etika dalam ilmu ini mengambil posisi netral (bertolak dalam pijakan metodologi positivistis), maka temuan hasil setudi netral itu sepertinya kebal terhadap penilaian-penilaian etis.Menarik untuk di soroti adalah bagaimana dan adakah konsep Islam menawarkan etika bisnis bagi pendorong bangkitnya roda ekonomi. Filosofi dasar yang menjadi catatan penting bagi bisnis Islamiadalah bahwa, dalam setiap gerak langkah kehidupan manusia adalah konsepi hubungan manusia dengan mansuia, lingkungannya serta manusai dengan Tuhan (Hablum minallah dan hablum minannas). Dengan kata lain bisnis dalam Islam tidak semata mata merupakan manifestasi hubungan sesama manusia yang bersifat pragmatis, akan tetapi lebih jauh adalah manifestasi dari ibadah secara total kepada sang Pencipta.Etika Islam Tentang BisnisDalam kaitannya dengan paradigma Islam tetntang etika bisnis, maka landasan filosofis yang harus dibangun dalam pribadi Muslim adalah adanya konsepsi hubungan manusia dengan manusia dan lingkungannya, serta hubungan manusia dengan Tuhannya, yang dalam bahasa agama dikenal dengan istilah (hablum minallah wa hablumminannas). Dengan berpegang pada landasan ini maka setiap muslim yang berbisnis atau beraktifitas apapun akan merasa ada kehadiran "pihak ketiga" (Tuhan) di setiap aspekhidupnya. Keyakinan ini harus menjadi bagian integral dari setiap muslim dalam berbisnis.
Hal ini karena Bisnis dalam Islam tisak semata mata orientasi dunia tetapi harus punya visi akhirat yang jelas. Dengan kerangka pemikiran seperti itulah maka persoalan etika dalam bisnis menjadi sorotan penting dalam ekonomi Islam.Dalam ekonomi Islam, bisnis dan etika tidak harus dipandang sebagai dua hal yang bertentangan, sebab, bisnis yang merupakan symbol dari urusan duniawi juga dianggap sebagai bagian integral dari hal-hal yang bersifat investasi akherat. Artinya, jika oreientasi bisnis dan upaya investasi akhirat (diniatkan sebagai ibadah dan merupakan totalitas kepatuhan kepada Tuhan), maka bisnis dengan sendirinya harus sejalan dengan kaidah-kaidah moral yang berlandaskan keimanan kepada akhirat. Bahkan dalam Islam, pengertian bisnis itu sendiri tidak dibatasi urusan dunia, tetapi mencakup pula seluruh kegiatan kita didunia yang "dibisniskan" (diniatkan sebagaiibadah) untuk meraih keuntungan atau pahala akhirat.
Stetemen ini secara tegas di sebut dalam salah satu ayat Al-Qur'an.Wahai Orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan pada suatu perniagaan (bisnis) yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab pedih ? yaitu beriman kepada allah & Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan jiwa dan hartamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuiDi sebagian masyarakat kita, seringkali terjadi interpretasi yang keluru terhadap teks al-Qur'an tersebut, sekilas nilai Islam ini seolah menundukkan urusan duniawi kepada akhirat sehingga mendorong komunitas muslim untuk berorientasi akhirat dan mengabaikan jatah dunianya, pandangan ini tentu saja keliru. Dalam konsep Islam, sebenarnya Allah telah menjamin bahwa orang yang bekerja keras mencari jatah dunianya dengan tetap mengindahkan kaidah-kaidah akhirat untuk memperoleh kemenangan duniawi, maka ia tercatat sebagai hamba Tuhan dengan memiliki keseimbangan tinggi.Sinyalemen ini pernah menjadi kajian serius dari salah seorang tokoh Islam seperti Ibnu Arabi, dalam sebuah pernyataannya."
Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan Al-Qur'an yang diterapkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makna dari atas mereka (akhirat) dan dari bawah kaki mereka (dunia)."Logika Ibn Arabi itu, setidaknya mendapatkan penguatan baik dari hadits maupun duinia ekonomi, sebagaimana Nabi SAW bersabda : Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka hendaknya dia berilmu, dan barangsiapa yang menginginkan akhirat maka hendaknya dia berilmu, dan barangsiapa yang menghendaki keduanya maka hendaknya dia berilmu."Pernyataan Nabi tersebut mengisaratkan dan mengafirmasikan bahwa dismping persoalan etika yang menjadi tumpuan kesuksesan dalam bisnis juga ada faktor lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu skill danpengetahuantentang etika itu sendiri. Gagal mengetahui pengetahuan tentang etika maupun prosedur bisnis yang benar secara Islam maka akan gagal memperoleh tujuan. Jika ilmu yang dibangun untuk mendapat kebehagiaan akhirat juga harus berbasis etika, maka dengan sendirinya ilmu yang dibangun untuk duniapun harus berbasis etika. Ilmu dan etika yang dimiliki oleh sipapun dalam melakukakan aktifitas apapun ( termasuk bisnis) maka ia akan mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat sekaligus.Dari sudut pandang dunia bisnis kasus Jepang setidaknya telah membuktikan keyakinan ini, bahwa motivasi prilaku ekonomi yang memiliki tujuan lebih besar dan tinggi (kesetiaan pada norma dan nilai etika yang baik) ketimbang bisnis semata, ternyata telah mampu mengungguli pencapaian ekonomi Barat (seperti Amerika) yang hampir semata-mata didasarkan pada kepentingan diri dan materialisme serta menafikan aspek spiritulualisme. Jika fakta empiris ini masih bisa diperdebatkan dalam penafsirannya, kitabisa mendapatkan bukti lain dari logika ekonomi lain di negara China, dalam sebuah penelitian yang dilakukan pengamat Islam, bahwa tidak semua pengusaha China perantauan mempunyai hubungan pribadi dengan pejabat pemerintah yang berpeluang KKN, pada kenyataannya ini malah mendorong mereka untuk bekerja lebih keras lagi untuk menjalankan bisnisnya secara professional dan etis, sebab tak ada yang bisa diharapkan kecuali dengan itu, itulah sebabnya barangkali kenapa perusahaan-perusahaan besar yang dahulunya tidak punya skil khusus, kini memiliki kekuatan manajemen dan prospek yang lebih tangguh dengan dasar komitmen pada akar etika yang dibangunnyaDemikianlah, satu ilustrasi komperatif tentang prinsip moral Islam yang didasarkan pada keimanan kepada akhirat, yang diharapkan dapat mendorong prilaku positif di dunia, anggaplah ini sebagai prinsip atau filsafah moral Islam yang bersifat eskatologis, lalu pertanyaan lebih lanjut apakah ada falsafah moral Islam yangdiharapkan dapat mencegah prilaku curang muslim, jelas ada, Al-Qur'an sebagaimana Adam Smith mengkaitkan system ekonomi pasar bebas dengan "hukum Kodrat tentang tatanan kosmis yang harmonis". Mengaitkan kecurangan mengurangi timbangan dengan kerusakan tatanan kosmis, Firman-Nya : "Kami telah menciptakan langit dan bumi dengan keseimbangan, maka janganlah mengurangi timbangan tadi." Jadi bagi Al-Qur'an curang dalam hal timbangan saja sudah dianggap sama dengan merusak keseimbangan tatanan kosmis, Apalagi dengan mendzhalimi atau membunuh orang lain merampas hak kemanusiaan orang lain dalam sektor ekonomi)Firman Allah: "janganlah kamu membunuh jiwa, barangsiapa membunuh satu jiwa maka seolah dia membunuh semua manusia (kemanusiaan)" Sekali lagi anggaplah ini sebagai falsafah moral Islam jenis kedua yang didasarkan pada tatanan kosmisalam.Mungkin kata hukum kodrat atau tatanan kosmis itu terkesan bersifat metafisik, suatu yang sifatnya debatable, tapi bukankah logika ilmu ekonomi tentang teori keseimbanganpun sebenarnya mengimplikasikan akan niscayanya sebuah "keseimbangan" (apapun bentuknya bagi kehidupan ini), Seringkali ada anggapan bahwa jika sekedar berlaku curang dipasar tidak turut merusak keseimbangan alam, karena hal itu dianggap sepele, tetapi jika itu telah berlaku umum dan lumrah dimana-mana dan lama kelamaan berubah menjadi semacam norma juga, maka jelas kelumrahan perilaku orang itu akan merusak alam, apalagi jika yang terlibat adalah orang-orang yang punya peran tanggung jawab yang amat luas menyangkut nasib hidup banyak orang dan juga alam keseluruhan.Akhirnya, saya ingin mengatakan bahwa dalam kehidupan ini setiap manusia memang seringkali mengalami ketegangan atau dilema etis antara harus memilih keputusan etis dan keputusan bisnis sempit semata sesuai dengan lingkup dan perantanggung jawabnya, tetapi jika kita percaya Sabda Nabi SAW, atau logika ekonomi diatas, maka percayalah, jika kita memilih keputusan etis maka pada hakikatnya kita juga sedang meraih bisnis.
Wallahu 'A'lam.
Penulis adalah Cendekiawan Muslim, Dosen STAIN.
Ketua MES, Komisi Dakwah MUI Cirebon, Ketua Dewan Dakwah Korwil Cirebon
Sumber: http//www.ar-raniry.com

Nishfu Sya'ban

Nishfu Sya'ban
Malam Nishfu Sya'ban dan KeutamaannyaBulan Sya'ban adalah bulan yang diapit oleh dua bulan yang sangat mulia, yaitu Rajab dan Ramadhan. Bulan Rajab merupakan salah satu dari 4 bulan haram: bulan-bulan yang dihormati. Allah berfirman agar kita tidak menganiaya diri kita dengan berbuat maksiat di bulan-bulan haram, sebab melakukan maksiat di bulan haram lebih berat tanggung jawabnya kelak di akhirat.
Adapun keutamaan bulan Ramadhan sangat banyak, di antaranya: ibadah wajib di bulan itu seperti 70 ibadah wajib di bulan lain, amalan sunah dibulan itu senilai amalan wajib di bulan lain, pada bulan itu Quran diturunkan, dan terdapat malam yang lebih mulia dari seribu bulan, dll.
Keutamaan yang banyak dari kedua bulan ini seakan menenggelamkan kelebihan bulan Sya'ban. Padahal, bulan Sya'ban juga memiliki keutamaan: Diriwayatkan kepadaku bahwa Usamah bin Zaid berkata kepada Nabi, "Ya Rasulullah, aku belum pernah melihat engkau berpuasa di bulan lain lebih banyak dari puasamu di bulan Sya'ban." Kata Nabi, "Bulan itu sering dilupakan orang karena diapit oleh bulan Rajab dan Ramadhan, padahal pada bulan itu, diangkat amalan-amalan (dan dilaporkan) kepada Tuhan Rabbil Alamin. Karenanya, aku ingin agar sewaktu amalanku dibawa naik, aku sedang berpuasa." (HR Ahmad dan Nasai - dlm. Figh Sunah Abu Dawud).
Adapun keutamaan bulan Sya'ban lainnya akan lebih jelas lagi dalam hadis-hadis berikut:HADIS PERTAMA; Aisyah RA bercerita bahwa pada suatu malam ia kehilangan Rasulullah SAW. Ia lalu mencari dan akhirnya menemukan beliau di Baqi' sedang menengadahkan wajahnya ke langit. Beliau berkata: "Sesungguhnya Allah Azza Wajalla turun ke langit dunia pada malam nishfu Sya'ban dan mengampuni (dosa) yang banyaknya melebihi jumlah bulu domba Bani Kalb." (HR Turmudzi, Ahmad dan Ibnu Majah).
HADIS KEDUA; Diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy'ari RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:"Sesungguhnya Allah pada malam nishfu Sya'ban mengawasi seluruh mahluk-Nya dan mengampuni semuanya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan." (HR Ibnu Majah)HADIS KETIGA; Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib KW bahwa Rasulullah SAW bersabda:"Jika malam nishfu Sya'ban tiba, maka salatlah di malam hari, dan berpuasalah di siang harinya, karena sesungguhnya pada malam itu, setelah matahari terbenam, Allah turun ke langit dunia dan berkata, Adakah yang beristighfar kepada Ku, lalu Aku mengampuninya, Adakah yang memohon rezeki, lalu Aku memberinya rezeki , adakah yang tertimpa bala', lalu Aku menyelamatkannya, adakah yang begini (2x), demikian seterusnya hingga terbitnya fajar." (HR Ibnu Majah). Demikianlah keutamaan dan kelebihan malam Nishfu Sya'ban, marilah kita manfaatkan malam yang mulia ini untuk mendekatkan diri dan memohon sebanyak- banyaknya kepada Allah.
Sumber: http//swaramuslim.com

Keistimewaan Sya'ban dan Ramadhan

Keistimewaan Sya’ban dan Ramadhan.
Sesungguhnya untuk yang mau mempelajari bulan demi bulan mengandung kelebihan tersendiri, Ramadhan turunnya Al-Quran, Zulhijjah disebut bulan haji, Nabi Ibrahim mengorbankan anak sendiri Ismail kemudian umat Nabi Muhammad SAW, menamakannya bulan korban. Bulan Rajab Isra’ Mikraj Rasulullah SAW. Bulan Sya’ban meiliki jumlah keistimewaan dan hikmah pula, yakni hikmah dan kebaikan yang dikandungnya. Bulan Sya’ban mendatangi kita tiap tahun guna memberikan kesempatan agar meningkatkan dan melipatgandakan berbagai amal kebaikan. Pada bulan inilah kesempatan bagi kaum muslimin memperbanyak amal ibadahnya serta perbuatan lainnya seperti memberi sedekah fakir miskin, membina anak yatim, memperbanyak puasa sunnat guna melatih diri menghadapi puasa Ramadhan nantinya.
Aisyah istri Rasulullah SAW, menjelaskan sebagai berikut, bahwa selain Ramadhan, Nabi Muhammad SAW, selalu berpuasa pada bulan Sya’ban. Hadis yang diriwayatkan Usmah bin Zaid menjelaskan : “saya bertanya kepada Rasulullah SAW, : Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya tidak pernah melihat engkau memperbanyak puasa sunnat mu pada bulan-bulan yang lain, seperti yang engkau lakukan pada bulan Sya’ban. Rasulullah SAW, menjawab kepadanya dengan mengatakan bahwa bulan Sya’ban adalah bulan yang terletak antara bulan bulan Rajab dan Ramadhan sering kali orang melupakan fadilah dan keutamaan yang terkandung didalamnya bulan tersebut. Padahal bulan tersebut segala amal perbuatan selama satu tahun diangkat kehadapan Allah SWT. Dan inilah sebabnya kenapa saya banyak berpuasa sunnat pada bulan tersebut, karenanya ingin amal dan perbuatan saya diangkat kehadapan Allah SWT. Dan saya dalam keadaan puasa.
Hadis diatas kemudian diperkuat lagi oleh hadis riwayat Anas ra. ” Orang muslim di zaman Rasulullah SAW, dan sahabatnya selalu meningkatkan bacaan Al-Quran setiap kali memasuki bulan Sya’ban, dan pada bulan Sya’ban jugalah mereka selalu membayar zakat mereka terhadap fakir miskin demi untuk membantu menghadapi bulan Ramadhan dengan jiwa yang tenang”. Kedua hadis Rasulullah itu mengingatkan kaum muslimin menyambut bulan Sya’ban dengan melaksanakan perintah Allah SWT, dan melaksanakan perbuatan yang baik-baik. Bagi mereka yang mendapatkan rezki yang dilebihkan Allah jangan lupa menyisihkan sebagian rezki itu untuk bersedekah dan membayar zakat. Mudah-mudahan Allah SWT, dengan menunjukkan amal ikhlas seorang muslim sejati disisi Allah SWT, akan menurunkan rahmat yang berlimpah kepada manusia dan alam sekitar. Seperti rahmat kesehatan, rahmat kesempatan, rahmat Iman dan rahmat Islam.
Hadis lain tentang keistimewaan bulan Sya’ban ialah kata Aisyah :” saya tidak pernah melihat Rasulullah SAW, menyempurnakan puasanya satu bulan penuh, selain puasa bulan Ramadhan dan saya tidak melihat pula Rasul SAW, berpuasa dibulan lain, lebih banyak dari bulan Sya’ban”. (Hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim). Keterangan hadis diatas menyelaraskan puasa sunnat yang dilakukan Rasul SAW, pada bulan Sya’ban lebih banyak dilakukan dibanding dengan bulan-bulan lainnya. Kecuali Ramadhan Rasul SAW. Melakukan puasa sunnat, cukup banyak.
Mengapa puasa bulan Ramadhan dilakukan sebulan penuh? Karena puasa pada bulan Ramadhan merupakan puasa yang diwajibkan bagi orang-orang beriman (Al-Baqarah : 183). Berpuasa berarti menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas rahmdan karunia dan nikmat Allah yang kita peroleh. Melalui puasa sunnat dan puasa wajib, berarti kita menyatakan rasa syukur kepada-Nya. Selain berterima kasih itu melalui puasa membuktikan bahwa kita sanggup menahan makan dan minum dan menahan segala hawa nafsu yang menyesatkan disebut hawa nafsu hewani. Dan hikmah puasa lainnya, adalah memberikan pendidikan kepada kita untuk berdisiplin diri dan mendidik pula rasa belas kasihan bagi orang-orang yang tidak mampu dan dengan puasa dapat terjaga kesehatan rohani dan jasmani. Sebaiknya lakukan puasa baik puasa sunnat dibulan Sya’ban maupun puasa wajib di bulan Ramadhan.
Setelah dapat memahami dan menjalankan apa yang terkandung pada bulan Sya’ban jadi istimewa sebagai hadis Rasul SAW, tersebut diatas yang diriwayatkan Usmah bin Zaid, kapan sampai bilangan perjalanan bulan sampai bulan Ramadhan bermodalkan pengalaman di bulan Sya’ban Insya Allah dapat dengan ikhlas mengamalkan ibadah selama bulan Ramadhan nanti ikhlas karena Allah SWT. Benar cara mengerjakan ibadah tersebut, yakni tujuan hendak dicapai redha Allah. Merasakan fakir dalam amal (miskin dalam amal) selama Ramadhan nanti hindari menunda amal shaleh untuk dikerjakan atau mengulur-ngulur waktu shalat umpamanya.
Inilah yang dimaksud ke istimewaan dan hikmah bulan Sya’ban dan bulan Ramadhan. [ dari berbagai sumber... (bk).]
Sumber : http//oyonk.com

Sombong Pusaka Iblis

Sombong (Pusaka Iblis)

Suka memperkecil-kecilkan orang lain, lebih-lebih lagi orang yang dipandang hina dan lebih rendah taraf dibawahnya.
Susah menerima sebarang nasihat, teguran atau kritikan daripada orang lain terutama orang dibawahnya.
Bermegah dengan keistimewaan yang Allah beri padanya, seperti cantik, berjawatan tinggi, kaya, bijak, masyhur, dipuji orang, keturunan baik dan sebagainya.
Suka marah-marah kepada orang atau membentak-bentak orang dikhalayak ramai.
Rasa diri hebat, sempurna, kuat hingga membelakangkan kehebatan dan kebesaran Allah sama sekali.
Suka bergaul dengan orang yang setaraf dengannya sahaja.
Pendapatnya sahaja yang betul dan mesti diterima, orang lain salah dan tidak penting.
Susah meminta maaf dan senyum terhadap orang lain.
Tidak pernah fikir kesusahan orang lain, ia fikir kesenangannya sahaja.
Sumber : http//www. geociti.com

kelebihan bulan sya'ban

Kelebihan Bulan Sya'ban
1>
Sabda Nabi s.a.w.:-
Apabila masuk bulan Syaaban,baikkanlah niatmu adanya,kerana kelebihan Syaaban atas segala bulan seperti kelebihanku atas kamu.
<2>
Barang siapa berpuasa sehari pada bulan Syaaban:-
diharamkan Allah tubuhnya dari api neraka.Dia akan menjadi taulan nabi Allah Yusof di dalam Syurga.Di beri pahala oleh Allah seprti pahala Nabi Allah Ayub dan Nabi Daud.Jika dia sempurnakan puasanya sebulan bulan Syaaban, dimudahkan Allah atasnya Sakaratlmaut dan ditolakkan (terlepas) daripada kegelapan di dalam kubur, dilepaskan daripadanya huru-hara Mungkar dan Nangkir, ditutup Allah keaibannya di hari Qiamat dan di wajibkan syurga baginya. (Al-Hadis)
<3>
Barangsiapa berpuasa:-
Pada awal khamis dibulan Syaaban dan akhir khamis daripada Syaaban,dimasukkan dia ke dalam Syurga. (Al-Hadis) dari kitab Al-Barokah.
<4>
Berkata Siti Aisyah r.a.:-
Bulan yang lebih dikasihi Rasulullah s.a.w. ialah bulan Syaaban.
<5>
Sabda Nabi s.a.w.
Syaaban adalah bulan ku dan Ramadhan adalah bulan umat ku.Syaaban ialah mengkifaratkan (menghapuskan) dosa dan Ramadhan ialah menyucikan dosa (jasmani rohani)
<6>
Sabda Nabi s.a.w.:-
Bahawa puasa Syaaban kerana membesarkan Ramadhan, siapa yang berpuasa tiga hari daripada bulan Syaaban, kemudian dia berselawat atasku beberapa kali sebelum berbuka puasa,maka diampunkan oleh Allah dosanya yang telah lalu, diberkatkan rezekinya baginya antara lain sabdanya lagi : Bahawa Allah Taala bukakan pada bulan itu 300 pintu rahmat.
<7>
Sabda Rasulullah s.a.w.:-
Dinamakan Syaaban kerana padanya terdapat kebajikan yang amat banyak dan puasa yang lebih afdal sesudah Ramadhan ialah puasa bulan Syaaban.
<8>
Sabda Nabi s.a.w.:-
Bahawa kelebihan Rejab atas bulan-bulan yang lain nya seperti Quran atas segala Qalam.Kelebihan Syaaban atas bulan-bulan yang lainnya seperti kelebihan ku atas segala Anbia' (nabi-nabi). Kelebiahan Ramadhan atas bulan-bulan yang lain nya seperti kelebihan Allah atas sekalian makluk Nya.
<9>
Keagungan malamnya dengan malam Nisfu-Syaaban sepertimana keagungan Rejab dengan malam Israk-Mikrajnya dan keagungan Ramadhan dengan malam lailatulqadarnya.Maka pada malam Nisfu-Syaaban telah datang Jibril kepada Rasulullah s.a.w lalu katanya:-Angkat kepala mu ke langit,itulah malam yang dibukakan pintu langit.
<10>
Sabda Nabi s.a.w:-
Allah menilik kepada hambaNya pada malam Nisfu Syaaban maka diampunkandosa segala maklukNya melainkan orang syirik dan orang yang tiada bertutur dengan saudaranya (Al-Hadis)
<11>
Sabdanya lagi:-
Apabila pada malam Nisfu Syaaban maka berjagalah kamu pada malamnya bersembahyang, dan puasa kamu pada siangnya.Allah berfirman:"Adakah orang yang meminta ampun Aku ampunkannya,adakah orang yang ditimpa bala Aku afiatkannya.Adakah orang yang meminta rezeki maka Aku rezekikannya" demikianlah pertanyaan lainnya sehingga keluar fajar subuh. (Al-Hadis)
<12>
Tersebut dalam kitabA-Barokah:- Bahawa jin,burung,binatang-binatang buas,ikan di laut berpuasa mereka pada hari Nisfu Syaaban.
<13>
Tersebut dalam kitab Iq'na:- Bahawa Jibril bersungguh-sungguh pada malam Nisfu Syaaban
menunaikan segala hajat.Maka datanglah Jibril kepada Rasullullah s.a.w kali keduanya,katanya:- Ya Muhammad,
gembirakanlah kamu bahawa Allah Taala telah mengampunkan segala umat mu orang yang tiada mengsekutukanNya sesuatu,angkatkan kepalamu,lalu Rasullullah pun mengangkatkan kepalanya tiba-tiba
terbuka segala pintu Syurga.
Dalam riwayat yang lainpula dinyatakan terbuka segala pintu langit.
Pada pintu langit pertama Malaikat menyeru kemenangan bagi orang yang rukuk pada malam ini.
Pada pintu langit yang kedua Malaikat menyeru kemenangan bagi orang yang sujud pada malam ini.
Pada pintu langit yang ketiga Malaikat menyeru kemenangan bagi orang yang minta doa pada malam ini.
Pada pintu langit yang keempat Malaikat menyeru kemenangan bagi orang yang berzikir pada malam ini.
Pada pintu langit yang kelima Malaikat meyeru kemenangan bagi orang yang menangis keran takutkan Allah pada malam ini.
Pada pintu langit yang keenam Malaikat meyeru kemenangan bagi orang yang mengerjakan amal kebajikan pada malam ini.
Pada pintu langit yang ketujuh Malaikat menyeru kemenangan bagi orang yang meminta, maka dikurniakan permintaannya itu .
dan pada langit yang kelapan Malaikat menyeru :- Adakah orang yang meminta ampun maka diampunkan baginya? Aku bertanya pada Jibril, sampai bila kah terbukanya semua pintu ini (diterima doanya) - Jawab Jibril:- Sehingga naik fajar subuh.Dan katanya lagi :-Pada malam ini dimerdekakan hambaNya yang Mukmin lelaki dan perempuan dari api neraka sebanyak bulu kambing Bani Kilab.(Bani Kilab di antara orang-orang Arab yang banyak memelihara kambing).
Sumber : http/www. geociti.com

วันศุกร์ที่ 17 กรกฎาคม พ.ศ. 2552

ِArtikel Pilihan


ISLAM KLASIK DAN KAJIAN ISLAM DI MASA DEPAN
Oleh : Fu'ad Jabali

Keseluruhan sejarah Islam adalah pergumulan masyarakat Islam mewujudkan nilai-nilai Islam dalam ruang dan waktu tertentu. Catatan pergumulan tersebut lalu disistematisasi dan dilembagakan di balik nama-nama yang sekarang dikenal: tentang Tuhan dalam kaitannya dengan manusia dan alam disebut aqidah/filsafat, tentang hukum dan segala bentuk aplikasinya disebut fikih (atau, syari'ah), tentang makna al-Qur'an disebut tafsir, sementara cara-cara transmisi Islam dari satu generasi ke generasi lain atau dari satu kelompok masyarakat ke kelompok masyarakat lain disebut tarbiyah. Sebutan lain seperti adab (sejarah dan kebudayaan Islam), sufisme dan dakwah juga menunjuk pada hal yang sama: hasil pencapaian masyarakat Islam dalam menafsirkan dan mentransmisikan Islam.

Di berbagai tempat dimana proses pendidikan Islam berlangsung-termasuk pesantren, masjid, madrasah, majlis taklim, kelompok pengajian dan IAIN-hasil-hasil capaian tersebut dipelajari. Aqidah, fikih/syari'ah, tafsir, sufisme dll. menjadi materi-materi kajian; bahkan di IAIN menjadi nama fakultas seperti Aqidah/Filsafat, Syari'ah, Tarbiyah, Dakwah dan Adab.
Proses pelembagaan Islam tersebut-yaitu proses mengkristalnya Islam dalam berbagai ilmu dan aliran pemikiran atau mazhab-sudah mulai nampak dengan kuat terutama pada abad ke 2-3 H / 8-9 M dengan tokoh-tokoh seperti Malik ibn Anas (wafat th. 179 H / 795 M), Abu Hanifah (wafat 150/767), al-Syafi'i (wafat 204/820) dan Ahmad ibn Hanbal (wafat th. 241/855). Sejak abad ini secara intensif Islam diformulasikan, digeneralisasikan, dan dibuat hubungan antara satu sisi dengan yang lainnya. Yang muncul kemudian adalah Islam yang abstrak dan transenden, Islam yang sudah ditarik dari dunia nyata.

Dengan generalisasi/abstraksi/transendensi, ciri khas Islam, atau kemampuan Islam untuk menyapa problem bawah yang yang sangat beragam, tertekan. Dengan kata lain, pendirian mazhab-dimana generalisasi dilembagakan-telah melahirkan alienasi. Pertama, mengalienasi Islam dari masyarakatnya. Untuk memahami generalisasi dan menurunkannya kembali ke tingkat detil memerlukan pengetahuan yang tidak sedikit sehingga hanya orang-orang tertentu yang bisa melakukannya (dan mereka inilah yang kemudian disebut ahli agama, kyai, guru, ustaz dll). Mereka ini lalu menjadi semacam medium, lembaga perantara, antara Muslim awam dengan persoalan-persoalan mereka. Kedua, alienasi Muslim dari akar Islam, al-Qur'an dan Hadits. Dengan adanya mazhab kedua sumber itu secara tidak sadar terjauhkan dari umat yang semestinya menjadi pembacanya. Persoalan-persoalan yang timbul tidak lagi diadukan langsung kepada al-Qur'an dan Hadith tetapi kepada mazhab. Ketiga, mengalienasi masyarakat Islam dari Tuhannya. Tuhan kini didekati melalui mazhab, melalui institusi. Keempat, mengalienasi Islam dari persoalan aktual, karena mazhab tersebut dilahirkan pada masa tertentu untuk kebutuhan masyarakat tertentu, untuk merespon problem yang lahir pada masa tertentu, maka persoalan kekinian sendiri terpinggirkan dalam mazhab itu.

Untuk keluar dari kemelut ini, seseorang harus bisa melampaui mazhab. 'Melampaui' berarti memecahkan kembali gumpalan-gumpalan mazhab, menguraikannya, mengembalikannya menjadi pecahan-pecahan kecil, dan menerapkannya pada kasus per kasus keseharian dalam bentuk bahan baku. Dengan cara ini, Islam akan kembali menjadi sederhana seperti masa awalnya, lebih fleksibel untuk dibentuk sesuai dengan ruang dan waktu. Tujuan Islam sebagai wahana mendekati Tuhan dan alat untuk menjawab persoalan-persoalan keseharian akan lebih efektif dicapai karena tidak ada lagi lembaga perantara yang memisahkan umat dengan kedua fungsi tersebut.

Memecahkan gumpalan-gumpalan pemikiran yang sudah berabad-abad tersebut memang tidak mudah. Tetapi itulah agenda besar yang harus dilaksanakan jika ingin mengembalikan dinamika Islam ke tengah masyarakat. Lembaga-lembaga pendidikan Islam, terutama IAIN, memainkan peranan penting dalam hal ini.
Untuk tujuan tersebut, ada dua hal yang perlu dilakukan. Pertama, menguasai masa awal Islam yang simple sebagai bahan dasar-bahan yang dipakai para pendiri mazhab untuk membangun mazhabnya. Kedua, memahami masa dimana pertama kali institusionalisasi terjadi (atau masa dimana pertama kali mazhab-mazhab muncul). Kedua masa ini-masa awal Islam dan masa lahirnya mazhab-masuk ke dalam periode klasik Islam, yaitu masa yang membentang dari masa Nabi sampai Baghdad jatuh pada 1258. Masa ini merupakan masa yang sangat penting baik untuk memahami bangunan Islam sekarang maupun untuk membangun kembali pemahaman Islam yang akan datang.

Struktur Ajaran Islam
Abad ke 1 Hijrah. Pada masa ini Tuhan menurunkan wahyu yang [diyakini Muslim] paling sempurna ke dunia. Sebelumnya Tuhan menurunkan ajaranNya kepada nabi-nabi lain sejak Nabi Adam, tapi [bagi kaum Muslim] ajaranNya yang sempurna hanya diberikan kepada Nabi Muhammad. Sebagai penerima ajaran yang sempurna, Nabi Muhammad juga dianggap sebagai figur yang paling sempurna. Dibanding manusia lain yang pernah ada di dunia, termasuk nabi-nabi, Nabi Muhammad adalah yang terbaik. Demikian juga, umat Nabi Muhammad, sebagai umat yang menerima ajaran yang paling sempurna dari Nabi yang sempurna, adalah juga dipandang umat yang paling sempurna (kuntum khayra ummah). Dalam al-Qur'an disebutkan Nabi dan umatnya akan ditunjuk Tuhan untuk menjadi saksi ketika pengadilan di akhirat nanti terjadi (ummatan wasatan litakunu shuhada' 'ala al-nas).

Walaupun umat Nabi Muhammad, termasuk yang sekarang, dianggap umat yang terbaik yang tengah menjalankan ajaran Tuhan yang terbaik, masa yang paling penting tetap berada pada saat ketiga kesempurnaan itu ada secara bersamaan, yaitu pada abad pertama Hijrah ketika Nabi hidup menjalankan ajaran di tengah-tengah umatnya. Demikian juga, walaupun Muslim kontemporer adalah umat yang terbaik, tetapi yang paling baik diantara seluruh generasi Muslim adalah mereka yang pernah hidup semasa dengan Nabi, mereka yang bersama Nabi membangun masyarakat Islam.

Nabi dan umat sezamannya merupakan figur kunci dalam religiusitas orang Islam kapan pun. Apa yang dilakukan dan dikatakan mereka menjadi dasar hukum bagi orang Islam. Al-Qur'an dan Hadith Nabi adalah dua sumber ajaran Islam utama. Dari masa ke masa kedua sumber ini ditafsirkan dalam rangka menjawab berbagai macam persoalan pada zamannya. Produk dari penafsiran itu adalah tradisi Islam yang kaya raya, berupa mazhab-mazhab pemikiran (seperti Asy'ariyah, Mu'tazilah, Jabariyah dan Qadariyah dalam teologi; dan Maliki, Hanafi, Syafi'i dan Hanbali dalam fikih) yang kini terekam dalam buku-buku klasik. Semuanya itu adalah buah dari kembang yang ada pada abad pertama Hijriyah tersebut.

Abad ke 2-3. Kalau masa Nabi adalah masa dimana pertama kali kesempurnaan ajaran Tuhan diturunkan, maka abad 2-3 Hijriyah adalah masa dimana untuk pertama kali ajaran-ajaran Tuhan yang diturunkan pada abad pertama tersebut dijabarkan dan dikristalisasikan dalam berbagai mazhab. Dengan kata lain, Islam abadi yang sudah direduksi pada masa Nabi kini direduksi lagi oleh para pendiri mazhab.

Reduksi tingkat pertama selalu lebih baik dari reduski tingkat kedua. Reduksi tingkat pertama dilakukan Tuhan kepada manusia sempurna, Nabi. Reduksi tingkat kedua dilakukan oleh manusia biasa (artinya, bukan Nabi). Reduksi yang pertama, karena dilakukan oleh Tuhan, mengandung misteri dan keagungan. Dia sakral. Reduksi kedua, karena dilakukan manusia, lebih mudah diurai, tahap-tahapannya lebih mudah direkontruksi. Dia tidak sakral. Orang dianjurkan berwudu untuk menyentuh al-Qur'an (sebagai hasil dari reduksi tingkat pertama), dan membacanya bisa mendatangkan suasana spiritual dan mistik. Tidak demikian halnya dengan membaca buku al-Syafi'i (sebagai hasil reduksi tingkat kedua), misalnya.

Tapi lepas dari perbedaan kedua tingkat reduksi tersebut, satu hal sama-sama dimiliki oleh kedua moment penting tersebut: sebagai 'yang pertama,' produk keduanya mengandung otoritas. Al-Qur'an dan buku al-Syafi'i, misalnya, senantiasa menjadi rujukan bagi masyarakat Islam yang datang belakangan. Ada orang yang menganggap reduksi tingkat pertama identik dengan kesempurnaan ajaran Tuhan, dan mengikuti apapun yang ada pada masa itu secara literal. Ada juga yang menganggap reduksi tingkat kedua sebagai identik dengan kebenaran Tuhan, dan mengikuti putusan-putusan mazhab secara literal. Dua pilihan itu sama-sama menafikan proses sebagai sesuatu yang esensi dalam Islam.

Sesuatu 'yang pertama' selalu penting dan menentukan, karena di sinilah letaknya bagaimana sesuatu tersebut bermula. Di sinilah berbagai ketegangan terjadi, tarik-tarikan antara berbagai macam variable terjadi: tarik-tarikan antara kesempurnaan langit dengan keterbatasan bumi pada kasus Nabi; dan tarik-tarikan antara kesempurnaan Nabi dengan keterbatasan manusia biasa pada kasus pembentukan mazhab. Pada kasus Nabi ada reduksi tingkat pertama, pada kasus mazhab ada reduksi tingkat kedua (reduksi dari reduksi).

Kalau mampu mengurai bagaimana reduksi terjadi, bagaimana tarik-tarikan bekerja, pada kedua tingkatan itu, maka akan sampai kepada pemahaman yang baik tentang Islam. Dengan memahami proses reduksi tingkat pertama, dari makna abadi di wilayah Tuhan ke makna yang dibatasi ruang dan waktu pada masa Nabi, seseorang bisa memahami mana tradisi Arab abad ke 7 dan mana Islam yang universal. Yang akan diterapkan adalah Islam, bukan tradisi Arab. Lewat pemahaman proses reduksi tingkat kedua, dari ajaran Nabi dan sahabatnya ke mazhab oleh para pendirinya, sesorang akan bisa menjawab posisi mazhab-mazhab pemikiran dalam Islam. Haruskah kaum Muslim terus mengikuti Imam Shafi'i?

Al-Qur'an, dan Hadits serta sejarah hidup Nabi adalah reduksi dari realitas wilayah langit. Sebagai reduksi, dia tidak persis sama dengan makna abadi yang merupakan bentuk asli agama. Walau begitu harus dicatat bahwa, karena Nabi adalah makhluk yang terbaik dan al-Qur'an adalah ungkapan yang terbaik, maka sejarah hidup Nabi dan al-Qur'an, serta kata-kata Nabi adalah bentuk reduksi dunia langit yang terbaik yang mungkin dimiliki oleh umat Islam. Atau dengan kata lain, al-Qur'an dan Nabi adalah pintu terbaik yang kaum Muslim miliki untuk memahami Islam.

Karena al-Qur'an dan hadith Nabi adalah ungkapan yang terbaik yang dipunyai, maka umat Islam harus tahu persis bagaimana ungkapan yang terbaik itu sebenarnya. Seperti dikatakan al-Qur'an dan Hadits Nabi, kaum Muslim harus mecontoh dan mengikuti Nabi. 'Mencontoh' dan 'mengikuti' hanya mungkin dilakukan kalau mereka tahu persis apa yang sebenarnya terjadi pada masa Nabi. Historisitas menjadi penting. 'Apa sebenarnya yang telah terjadi' menjadi penting untuk direkonstruksi oleh semua umat Islam.

Tapi pada level kedua, karena Al-Qur'an dan Hadits Nabi itu terhubungkan dengan dunia langit, maka selain mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, seseorang juga harus mampu menemukan makna apa sebenarnya yang ada di balik kata-kata atau peristiwa tersebut. Jawaban ini, karena terkait dengan dunia langit, tidak ada yang tahu. Hanya Tuhanlah yang tahu sebenarnya, dan karena itu para ulama selalu mengatakan 'wallalu a'lam bi al-sawab' ketika dia mengkahiri sebuah bahasan. Dan karena tidak ada yang persis tahu maka jawaban terhadap pertanyaan ini tidak satu. Jamak, plural.

Ajaran Islam yang sebenarnya adalah ajaran Nabi sebelum mengalami reduksi. Inilah yang harus ditangkap. Berbagai macam tafsiran al-Qur'an, dan berbagai macam mazhab ditulis dalam rangka menangkap kesempurnaan ajaran Islam tersebut. Manusia, sebagai amkhluk yang tidak sempurna tentu tidak akan mampu menangkap sepenuhnya kesempurnaan ajaran Tuhan. Dan di sinilah esensi dari beragama: ada dinamika, ada pencarian yang terus menerus, proses menjadi yang tanpa batas. Kata 'Islam' sendiri' berarti 'sedang berusaha selamat'. (Bukan 'silm' yang berati 'selamat'). 'Muslim', berbeda dengan 'Salim', adalah 'orang-orang yang sedang berusaha menjadi Islam'. Dalam berislam ada dinamika, ada usaha yang terus menerus, bahkan usaha dan dinamika adalah esensi dari berislam. Dalam pengertian ini, orang yang tidak memiliki dinamika di dalam dirinya bisa disebut non-Muslim.

Dialog dengan Sumber Utama
Ada komponen penting pada suatu permulaan: kesederhanaan. Sesuatu yang pertama selalu sederhana, simple, mudah dipahami, dan merakyat. Ajaran-ajaran Nabi seperti yang terungkap dalam Hadits-Hadits Nabi menggambarkan keadaan ini. Karena simple, selain mudah dipahami, ajaran-ajaran Islam juga sangat fleksibel. Penyebaran Islam ke wilayah yang lebih luas dan kemampuan beradaptasi dengan komunitas lokal hanya mungkin terjadi jika ada fleksibelitas. Sesuatu yang simple, sederhana selalu mampu merangkul masyarakat yang lebih luas.
Contoh yang bagus adalah syahadat dan aqidah. Jika seorang ingin masuk Islam, dia diwajibkan mengucapkan syahadat, yaitu kesaksian bahwa hanya Allahlah Tuhan yang Esa dan bahwa Muhammad adalah utusanNya. Hanya ucapan itu, tidak ada upacara atau kegiatan ritual lain yang kompleks. Pada perkembangan berikutnya muncul apa yang bernama aqidah. Kalau syahadat adalah komitmen individu, maka aqidah adalah komitmen suatu kelompok. Dengan kata lain, aqidah adalah syahadatnya masyarakat. Syahadat hanya satu dan dari orang ke orang ungkapannya sama. Aqidah jumlahnya banyak (Wasiyat Abu Hanifah, Aqidah Tahawiyah dll) dan ungkapannya beragam.

Yang menjadi perhatian utama adalah persoalan pengungkapan dan kaitannya dengan waktu. Syahadat, sebagai bagian dari permulaan, sangat simpel. Ungkapannya pendek. Aqidah, bagian dari masa belakangan, lebih kompleks dan ungkapannya panjang sekali. Tidak seperti Syahadat, aqidah mengharuskan penganutnya untuk mengakui banyak hal: mulai dari pengakuan keesaan Tuhan, sifat-sifat Tuhan, kalam Tuhan, sampai ke pengakuan bahwa mengusap sepatu itu wajib dan barang siapa yang mengingkarinya maka dia terancam menjadi kafir. Orang yang tidak mengakui salah satu komponen aqidah itu akan dianggap sebagai 'orang lain' atau bukan bagian dari masyarakat (jama'ah). Keyakinan yang berkembang di luar jama'ah disebut sekte.
Kalau menggunakan aqidah sebagai acuan dalam beragama, maka seseorang telah keluar dari simplisitas dan menghadirkan kompleksitas beragama yang menyulitkan orang untuk berislam. Sebaliknya kalau menggunakan syahadat, seseorang akan kembali ke simplisitas dan memudahkan orang untuk berislam. Semakin simpel suatu ajaran, semakin sedikit kata-kata yang dibuat, semakin banyak masyarakat yang bisa dimasukkan ke dalamnya. Semakin rumit sebuah ajaran, semakin panjang sebuah rumusan doktrin, semakin banyak orang yang tersingkirkan. Seperti perintah, "Semua orang masuk!" Dengan tiga kata ini tidak ada seorangpun yang disingkirkan. Tetapi begitu ditambah satu kata lagi (menjadi 4 kata), "Semua orang Padang masuk." Selain orang Padang tidak boleh masuk. Banyak orang tersingkirkan. Kalau ditambah satu kata lagi (menjadi 5 kata), "Semua orang Padang kaya masuk." Semakin banyak lagi orang yang tersingkirkan. Proses seperti ini telah terjadi pada rumusan doktrin Islam.

Semua itu tidak untuk mengatakan bahwa perluasan doktrin atau penjabaran Islam tidak perlu ada. Simplisitas Islam ketika memasuki suatu masa tertentu atau tempat tertentu perlu dipadukan dengan budaya lokal. Simplisitas harus dibiarkan terbuka supaya orang bisa masuk beserta semua kekayaan imajinasi, fikiran dan budayanya. Ini adalah proses yang tidak bisa dihindarkan. Budaya Islam berkembang dengan pesat justeru karena kesiapan Islam untuk dimasuki orang-orang banyak, ide banyak. Jika simplisitas dibekukan, maka Islam tidak akan bisa berkembang. Hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk.

Tidak juga berarti bahwa simplisitas itu tidak diperlukan lagi. Masyarakat Islam awal adalah suatu bahan dasar yang bisa dipakai untuk membangun berbagai ekspresi Islam. Problem masyarakat yang semakin kompleks memerlukan rumusan Islam yang sepadan. Beragama memerlukan proses pemilikan. Islam harus menjadi bagian dari individu dan masyarakat. Proses pemilikan melibatkan dialog yang kompleks antara individu dan masyarakat, dengan segala kekayaannya-baik budaya, sejarah maupun kepentingan-dengan Islam. Hasilnya tidak lagi Islam yang simpel. Komplikasi adalah suatu keharusan dalam proses pemilikan. Jika hal tersebut tidak terjadi, Islam yang dianut akan menjadi Islam yang teralienasi dari dunia nyata. Tetapi rumusan baru yang kompleks tersebut harus bisa diturunkan lagi setiap saat ke dalam bentuk simplenya yang asli. Ketika kompleksitas telah berubah menjadi belenggu yang membingungkan, baik itu terjadi pada tingkat individu maupun generasi, akan ada tempat untuk kembali. Kembali ke kesederhanaan, kembali ke bahan baku, untuk kemudian kembali membuat kesepakatan-kesepakatan baru, bangunan-bangunan baru.

Simplisitas-kompleksitas dalam Islam juga bisa dilihat pada tingkat sumber. Pada masa awal sumber Islam hanya al-Qur'an dan Hadits Nabi. Belum ada ijma`, belum ada qiyas. Belum ada buku mazhab, baik dalam bidang fikih maupun teologi. Pada masa itu al-Qur'an dan Hadits Nabi langsung berhadapan dengan tradisi lokal, dengan realitas masyarakat. Suasana yang sama sekali berbeda dengan saat ini. Sekarang al-Qur'an dan Hadits sudah dibentengi oleh berbagai tradisi dan buku. Al-Qur'an dan Hadits Nabi tidak lagi berdialog langsung dengan realitas kekinian, tapi diperantarai oleh buku dan tradisi tersebut, yang sering sangat kokoh sehingga tidak tembus-sehingga akhirnya tidak lagi merasakan keindahan dan kesucian al-Qur'an-yang sering tidak paham dengan tradisi tertentu, dengan persoalan tertentu.

Menghadirkan al-Qur'an dan Hadits langsung kehadapan umat masa kini, tanpa perantara, juga berarti mengembalikan otoritas kedua sumber itu. Kembali ke masa awal Islam yang simpel berarti mengembalikan rumusan-rumusan kebenaran al-Qur'an dan Hadits yang simpel. Dari kedua sumber inilah dimulai upaya membangun tradisi Islam yang baru, melakukan teoritisasi, problematisasi, mendialogkan kembali kedua sumber itu dengan kompleksitas persoalan nyata. Dengan kata lain, perlu melakukan hal yang persis dilakukan oleh generasi kaum Muslimin sebelum mazhab-mazhab terbentuk. Besar kemungkinan hasil dialog tersebut akan melahirkan mazhab-mazhab baru, seperti halnya generasi abad ke 2-3 masyarakat Islam yang melahirkan Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hanbali. Mazhab yang terbentuk adalah mazhab yang lahir langsung dari al-Qur'an. Bukan mazhab yang lahir dari mazhab. Hubungan dengan mazhab-mazhab tersebut tidak instruktif, tapi aspiratif. Hasil pemikiran yang dikembangkan di IAIN bisa jadi tidak merupakan kelanjutan darti mazhab-mazhab tersebut. Bisa jadi ada loncatan, ada sesuatu yang sama sekali baru. Hal ini sangat mungkin terjadi, mengingat usia mazhab-mazhab (fikih) sekarang sudah lebih dari 1000 tahun.

Menjadikan mazhab-mazhab yang ada sebagai sumber aspirasi tidak sama dengan merendahkan kedudukan mazhab-mazhab tersebut. Sekali lagi perlu ditegaskan mazhab-mazhab tersebut adalah mazhab pertama yang terinstitusionalisasi dalam Islam. Sebagai yang pertama ia juga memiliki otoritas, tentu saja pada level yang berbeda dengan al-Qur'an dan Hadits. Dari mazhab-mazhab itulah Muslim kontemporer bisa berkaca bagaimana problem-problem masyarakat mereka diadukan kepada al-Qur'an dan Hadits. Dalam hal ini proses institusionalisasi menjadi lebih penting diperhatikan daripada hasilnya.

Arti Bermazhab
Bagaimana berkaca pada mazhab? Ambil contoh Abu Hasan al-Asy'ari (wafat th. 324/935), tokoh penting di balik pendirian mazhab Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah yang kini menjadi anutan masyarakat Islam di Indonesia. Bagaimana cara memposisikan pendiri mazhab Asy'ariyyah ini?
Pertama perlu ditegaskan kembali bahwa suatu pemikiran muncul karena adanya tantangan. Jenis pemikiran akan ditentukan oleh jenis tantangan. Untuk memahami suatu pemikiran, seseorang harus memahami dulu tantangan apa yang dihadapi oleh para pemikir pada masa itu. Persoalan apa sebenarnya yang tengah dijawab, problem apa yang tengah dipikirkan. Abu Hasan al-Asy'ari merumuskan pikiran teologinya karena adanya tantangan Mu'tazilah. Yang terakhir ini, sebagai akibat dari kajian filsafat, berusaha memasukkan elemen akal yang lebih besar ke dalam interpretasi wahyu. Kontroversi ini terkristalisasi dalam beberapa persoalan seperti sifat Tuhan, kalam Allah, perbuatan manusia dll. Karena pikiran al-Ay'ari merupakan reaksi atau jawaban dari lontaran Mu'tazilah, maka isi pikiran al-Asy'ari akan ditentukan oleh isu yang dilontarkan Mu'tazilah.

Buku, sebagai catatan suatu pemikiran, juga harus dipahami seperti itu. Suatu buku lahir dari konteks tertentu, pada suatu ruang dan waktu tertentu. Jika ingin memahami buku itu maka yang harus dilakukan adalah menyusun kembali konteks kelahiran buku tersebut, atau, dengan kata lain, sejarah yang mengitari kelahiran buku tersebut, totalitas realitas sejarah yang melahirkan buku atau karya tersebut. Kalau ini benar, maka kajian sejarah menjadi sangat penting dalam memahami sebuah teks. Pemahaman sejarah mendahului pemahaman teks.
Buku teologi Abu Hasan, karena ditulis sebagai respon terhadap pemikiran Mu'tazilah, ditentukan isinya oleh Mu'tazilah. Isunya isu Mu'tazilah. Tentu saja dengan jawaban yang berbeda. Buku Maqalat-nya berisi persoalan-persoalan yang memang sedang menjadi isu saat itu. Kalau ingin menggunakan teologi Asy'ariyah sekarang, apakah seseorang akan menganut pikirannya dalam persoalan-persoalan Mu'tazilah itu? Persoalan yang tidak menjadi isu besar dalam masyarakat saat ini? Apakah sekarang isu sifat Tuhan, misalnya, sedang diperdebatkan di wilayah publik di TV, koran, radio, seperti halnya hal itu diperdebatkan dengan media yang berbeda pada masa Abu Hasan al-Asy'ari? Muslim sekarang punya persoalan tersendiri, yang sama sekali bukan persoalan sifat Tuhan atau bisa tidaknya melihat Tuhan di akhirat. Muslim sekarang perlu rumusan teologi yang bisa menjawab persoalan kekinian mereka. Bukan teologi yang bisa memecahkan persoalan masa Abu Hasan al-Asy'ari.

Tentu saja warisan Abu Hasan, seperti halnya warisan tradisi Islam masa lalu lainnya, sangat penting dipelajari. Bukan untuk diikuti secara literal, tapi untuk dijadikan cermin. Ketika bercermin, yang muncul adalah bayangan sendiri, bukan bayangan Abu Hasan. Muslim sekarang membaca Abu Hasan untuk melihat diri sendiri, memahami masyarakat sendiri. Yang menjadi pusat perhatian adalah umat Islam kontemporer, persoalan kontemporer. Mereka boleh saja menjadi pengikut Abu Hasan. Tapi pengikut yang baik adalah pengikut yang bisa mengulangi event dia: bahwa dia maju ke depan berfikir mencari pemecahan problem pada masanya. Menjadi pengikut dia, berarti maju memikirkan dan mencari pemecahan problem pengikut itu sendiri. Problem Abu Hasan tidak mesti diikuti. Isi buku Abu Hasan tidak mesti dihafalkan dan diyakini sampai berkeyakinan bahwa teologi yang dianut isinya sama dengan isi buku Abu Hasan. Teologi kontemporer adalah teologi masa kontemporer, teologi yang berisi kata-kata sendiri, yang merujuk pada benda-benda yang ada di sekitar umat saat ini.

Tentu saja seseorang baru bisa merumuskan teologi yang tepat untuk dirinya kalau ia paham apa persoalannya. Teologi suatu generasi, atau aliran pemikiran apapun dalam suatu generasi, adalah jawaban generasi tersebut pada persoalan mereka. Pada saat itu aliran pemikiran tersebut memang cocok (karena memang dirumuskan untuk memecahkan persoalan mereka). Kalau seseorang ingin merumuskan paham keagamaan yang cocok buat dirinya, pertama-tama ia harus paham apa problem dirinya. Kesalahan mengidentifikasi problem akan melahirkan rumusan pikiran yang salah buat dirinya.

Walaupun teologi banyak disebut, uraian di atas juga berlaku untuk ekspresi Islam lainnya, misalnya fikih. Fikih adalah rumusan manusia tentang persoalan hukum pada masanya. Fikih al-Syafi'i adalah fikih yang ditulis untuk menjawab persoalan hukum masanya. Apa persoalan masa kini? Apakah persoalan umat sekarang sama dengan persoalan yang dihadapi oleh imam Syafi'i?, sehingga kalau ingin mengikuti mazhab Syafi'i berarti harus mengikuti semua apa yang dia tulis dalam bukunya, lepas dari apakah apa yang dia tulis itu relevan buat Muslim saat ini? Atau apakah juga menjadi pengikut al-Syafi'i berarti mengikuti jejaknya dalam hal memacu dirinya untuk menjawab persoalan pada masanya?

Kembali ke Abu Hasan. Pada tingkat pertama, menjadi pengikut Abu Hasan berarti mencontoh dia dalam hal keteguhan dan keyakinan serta ketekunannya dalam menjawab tantangan pada masanya untuk menciptakan kemaslahatan umat masanya. Pada level kedua, menjadi pengikutnya berarti mengikuti ajaran dia. Tapi ajaran dia tidak identik dengan apa yang dia katakan dalam buku-buku mereka. Jadi apa ajaran mereka? Ajaran mereka bukan pada level detil, yaitu bahwa Qur'an itu bukan mahluk atau bahwa seseorang pasti melihat Tuhan di akhirat, tapi pada tingkat prinsip yang lebih tinggi. Apa itu? Seseorang akan melihat suatu contoh yang menjadi salah satu isu utama pada masa Abu Hasan: hubungan antara Tuhan dengan sifatNya.

Pada waktu kalangan ahli Hadits mengatakan bahwa dhat Tuhan itu berbeda dengan sifatNya dan bahwa sifat Tuhan itu abadi maka persoalanpun muncul. Dhat Tuhan abadi. Sifat Tuhan, yang ada dalam diri Tuhan, juga abadi. Bukankah itu berarti mengakui adanya dua keabadian dalam diri Tuhan (yaitu dhat dan sifatNya)?

Abu al-Hudhayl (wafat th. 226/840), salah seorang tokoh Mu'tazilah, berkeyakinan bahwa mengakui sifat Tuhan sebagai berbeda dengan dhatNya adalah sirik. Dhat Tuhan itu, menurutnya, tidak berbeda dengan sifatNya. Dhat Tuhan adalah sifatNya. SifatNya adalah dhat Tuhan. Lalu dengan apa Tuhan mengetahui? Tuhan mengetahui bukan dengan 'sifat mengetahui' yang ada dalam dhatNya, tapi lagsung dengan dhatNya. Dhat Tuhan itu adalah ilmu. Ilmu adalah dhat Tuhan. Dalam pandangan Mu'tazilah, inilah tawhid yang sebenarnya (dan karena itu mereka menamakan dirinya ahli tawhid).

Abu Hasan menolak pandangan Mu'tazilah tersebut. Tuhan berfirman dalam al-Qur'an bahwa Dia itu memiliki sifat. Nabi juga menyatakan begitu. Sahabat Nabi juga menyatakan begitu. Penolakan Mu'tazilah pada sifat Tuhan adalah penolakan pada kata-kata Tuhan, Nabi dan sahabatnya.

Pada saat yang sama Abu Hasan juga tidak setuju dengan pandangan ahli Hadits yang mengatakan bahwa sifat Tuhan itu berbeda dengan dhatNya. Mengatakan bahwa sifat Tuhan itu berbeda dengan dhatNya dan bahwa sifatNya itu abadi memang akan menggiring pada pemahaman adanya dualisme dalam diri Tuhan. Ini tidak benar. Yang benar-setelah diperdebatkan di kalangan para pengikut Abu Hasan sendiri-adalah "Sifat Tuhan itu bukan Tuhan dan bukan juga bukan Tuhan (laa huwa walaa ghayruh)."

Doktrin yang dirumuskan oleh kelompok Asy`ariyah itu seperti dua sisi mata uang. Ia adalah penolakan dan sekaligus juga pengakuan terhadap kedua kelompok yang bertikai di atas. Lewat "Sifat Tuhan itu bukan Tuhan" mereka tolak Mu'tazilah dan mereka rangkul ahli Hadits yang berpendapat bahwa sifat Tuhan itu berbeda dengan Tuhan. Lewat "Bukan juga bukan Tuhan", mereka tolak ulama Hadits dan mereka rangkul orang Mu'tazilah yang menyamakan Tuhan dengan sifatnya. Dua-duanya ditolak dan dua-duanya diterima dalam waktu yang bersamaan.
Sebelum doktrin Asy'ariyah tentang sifat Tuhan itu diterima oleh kebanyakan orang Sunni, termasuk Nahdlatul Ulama (NU), Abu Hasa al-Asy'ari dan pengikutnya menjadi bulan-bulanan kedua kelompok yang berusaha dia kompromikan. Oleh Mu'tazilah dia ditolak, oleh ulama salaf juga tidak disukai. Keduanya sama-sama merasa tidak terwakili. Sampai abad ke 12 para pengikut al-Asy'ari masih harus bertarung di jalan-jalan Baghdad melawan pendukung Mu'tazilah dan pendukung ahli Hadits.

Bagaimana Asy`ariyah sekarang bisa diterima oleh kebanyakan umat? Rahasia di balik rumusan ajaranya mungkin bisa membantu untuk menjawabnya. Semangat dari rumusan "Sifat Tuhan itu bukan Tuhan dan bukan juga bukan Tuhan" adalah bahwa realitas Tuhan itu bukan seperti yang dijelaskan baik oleh Mu'tazilah maupun oleh ahli Hadith. Definisi yang mereka rumuskan sama-sama tidak mampu menghadirkan eksistensi Tuhan yang sebenarnya. Makanya ditolak.
Kalau begitu, rumusan yang diajukan Asy`ariyah itu sesungguhnya bukan sebuah definisi, tapi lebih berupa sebuah pengakuan yang tulus: pertama, pengakuan terhadap usaha Mu'tazilah dan ahli Hadith untuk memahami realitas Tuhan; kedua, pengakuan bahwa realitas Tuhan itu jauh lebih kompleks dari deskripsi yang dibuat oleh Mu`tazilah dan oleh ulama salaf (dan oleh manusia manapun).

Lalu apa artinya menjadi pengikut Abu Hasan al-Asy'ari? Artinya berislam menurut prinsip Abu Hasan: mengakui relativitas setiap deskripsi tentang Tuhan dan ajaranNya, memberi hak kepada masing-masing kelompok pembuat deskripsi tersebut untuk terus ada, dan menghindari ekstrimitas dalam berislam. Posisi Abu hasan adalah posisi tengah, yang berusaha menjembatani berbagai ekstrimitas berbagai pihak yang bersebrangan. Menjadi pengikut Abu Hasan adalah memegang teguh prinsip ini. Persoalan-persoalan luar yang dia diskusikan pada masanya, seperti persoalan Tuhan dan sifatNya, bagi Muslim sekarang ada pada lapisan kedua. Mengajarkan teologi Asy'ariyah di lembaga-lembaga pendidikan Islam, termasuk IAIN, harus dikonsentrasikan pada lapisan pertama, pada lapisan prinsip. Langkah berikutnya adalah melihat lapisan pertama tersebut dengan kaca mata awal Islam: Apakah dia punya dasar kuat dalam al-Qur'an dan Hadith? Apakah ini posisi yang diambil Nabi?

Ilmu Bantu
Islam adalah agama Tuhan untuk manusia. Berasal dari Tuhan, Islam adalah agama Tuhan. Buat manusia, Islam adalah agama manusia. Tuhan dan manusia adalah dua realitas yang tidak bisa dipisahkan dari agama. Tanpa salah satunya agama tidak akan ada.
Karakteristik dua realitas ini sama sekali berbeda. Tuhan adalah realitas yang sangat luhur dan tak terbatas. Manusia adalah realitas yang rendah dan penuh dengan keterbatasan. Di wilayah Tuhan ada makna abadi. Tuhan menghendaki supaya makna tersebut dipahami manusia. Supaya bisa dipahami, makna yang ada di wilayah Tuhan tersebut harus direduksi sedemikian rupa sehingga manusia mampu menangkapnya. Dengan kata lan, makna itu harus diperkecil, dibuat miniaturnya, sebab kalau tidak begitu, manusia yang sangat terbatas ini tidak akan mampu menangkapnya.

Islam, dengan demikian, hanya bisa dipahami dengan baik manakala perhatian Muslim ditujukan pada dua wilayah sekaligus: wilayah Tuhan dan wilayah manusia. Ajaran-ajaran Islam yang ada di wilayah Tuhan perlu ditangkap dan dipahami, dan ajaran Tuhan tersebut bisa ditangkap lewat wilayah manusia. Apa yang ada di wilayah manusia adalah pintu masuk memasuki dunia langit. Agama, kitab suci, Nabi adalah pintu memasuki dunia langit. Untuk memahami dunia langit seseorang harus memahami dunia manusia, memahami kitab suci, memahami Nabi. Tanpa pemahaman itu dunia langit tidak akan bisa ditangkap dengan baik.
Oleh karena agama pada dasarnya untuk manusia, maka sebagian kebenaran agama juga ada pada manusia. Karena ada manusialah agama ada. Yang membenarkan agama adalah manusia. Manusia demikian penting posisinya dalam agama. Dia adalah titik temu antara dunia langit dan dunia bumi. Sebagai titik pertemuan, manusia menjadi unik. Mengkaji keunikan manusia-dengan segala produknya, termasuk budaya, tradisi, bahasa, ilmu pengetahuan dan teknologi-adalah sebuah kemestian dalam memahami agama. Dalam rangka inilah ilmu-ilmu seperti filsafat, sosiologi, antropologi, dan psikologi, menjadi penting untuk dikaji di IAIN.

Ilmu-ilmu sosial seperti itu bukan hanya baik untuk memahami Islam juga mutlak diperlukan untuk menerapkan Islam. Agama Islam harus diterapkan dalam tingkah laku. Karena itu dalam merealisasikan Islam umat Islam kontemporer harus mengetahui diri mereka sendiri, kelebihan dan kekurangan mereka, apa kemauan dan cita-cita mereka. Islam persis diturunkan untuk tujuan-tujuan itu: membantu manusia untuk hidup makmur, adil, bahagia.

Penutup
Ditegaskan bahwa masa klasik-masa yang membentang dari abad ke-1 H/ ke-7 sampai jatuhnya Baghdad pada abad ke-7 H/ ke-13 M-adalah masa dimana dua peristiwa penting terjadi. Pertama, diturunkannya wahyu secara sempurna ke dunia lewat Nabi Muhammad; kedua, dilembagakannya wahyu tersebut dalam berbagai mazhab yang dianut masyarakat Islam sekarang. Produk kedua peristiwa tersebut-yaitu al-Qur'an, Hadith Nabi, Sirah (sejarah hidup Nabi), Maghazi (sejarah peperangan Nabi) pada peristiwa pertama dan buku-buku yang ditulis para imam mazhab dan pengikut mereka pada peristiwa kedua-beserta konteks yang mengitarinya tersimpan dalam khazanah buku-buku yang sangat kaya. Buku-buku tersebut mutlak diperlukan dalam keberagamaan masyarakat Muslim sekarang. Baik kelompok yang ingin mengikuti warisan itu secara utuh (yang ingin mengikuti al-Qur'an dan Hadith Nabi serta ajaran-ajaran para pendiri mazhab sepersis mungkin) ataupun kelompok yang ingin mengikuti warisan tersebut secara terbuka (mempelajari warisan tersebut lewat konteks yang melahirkannya dan berusaha menarik semangat yang ada di balik ekspresi verbal warisan tersebut kemudian menerapkannya kembali dalam konteks mereka yang berbeda dengan ekspresi verbal bisa jadi berbeda) tidak mungkin melepaskan diri dari khazanah klasik tersebut.

Dengan kata lain, hanya lewat penguasaan tradisi klasik tersebutlah bangunan Islam mungkin didirikan. Reinterpretasi, tajdid, gerakan Salafi, kontekstualisasi, atau apapun bentuk gerakan yang muncul di masyarakat Islam, hanya mungkin berdiri dengan kokoh kalau dia berakar kuat dalam tradisi Islam klasik. Pilihan arah dan bentuk kajian Islam, baik di IAIN maupun di lembaga-lembaga kajian Islam lainnya, harus berpijak pada tradisi Islam klasik. Al-Qur'an, Hadith, dan karya-karya imam mazhab harus menjadi pijakan.

Warisan Islam klasik tersebut tentu harus dibaca dengan kreatif. Untuk itu pemahaman tentang manusia-sebagai penerima dan pelaksana agama-beserta produknya (budaya, ilmu, teknologi) mutlak diperlukan. Tuhan dan manusia, langit dan bumi, seperti dua sisi mata uang dalam agama.